Saturday, April 17

Wall Street Dibuka Volatil, Menyusul Buruknya Data Ritel AS

Jakarta, CNBC Indonesia porakporanda Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka volatil pada perdagangan Rabu (16/12/2020), menyusul rilis data ekonomi yang buruk dan membuat hajat stimulus semakin mendesak.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 14 pokok pada pukul 08: 30 masa setempat (21: 30 WIB) serta 30 menit kemudian menjadi kurang 9 poin (-0, 03%) ke 30. 190, 34. S& P 500 flat di level 3. 694, 76 sedangkan Nasdaq tumbuh 4, 3 poin (+0, 03%) ke 12. 599, 38.

Departemen Perniagaan AS mengatakan bahwa penjualan ritel anjlok 1, 1% pada November. Angka itu lebih buruk dibanding konsensus ekonom dalam polling Dow Jones yang menunjukkan penurunan sebesar 0, 3%.


Di AS, konsumsi bangsa menyumbang nyaris 70% dari Buatan Domestik Bruto (PDB). Rilis bukti buruk tersebut dipastikan memicu pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS buat kuartal IV-2020.

Namun, ada kabar jalan. Politico melaporkan Kongres telah memimpin kesepakatan stimulus senilai US$ 900 miliar yang termasuk bantuan langsung tunai (BLT). Namun, paket provokasi tersebut belum memasukkan bantuan untuk pelaku bisnis dan pemerintahan lokal.

Ketua DPR Nancy Pelosi, Pimpinan Mayoritas Senat Mitch McConnell, Pimpinan Minoritas Senat Chuck Schumer dan Pimpinan Minoritas DPR Kevin McCarthy bersemuka pada Selasa untuk meneken kemufakatan dua pihak. Menteri Keuangan Steven Mnuchin juga bakal dilibatkan.

“Saya optimistis kita bakal bisa mencapai pengetahuan dalam waktu dekat, ” kata McConnell pada Selasa malam sesudah pertemuan tersebut. Schumer mengatakan bahwa para pimpinan “membuat kemajuan, dan semoga kita bisa mencapai kemufakatan segera. ”

Pada Selasa, indeks Dow Jones Industrial Average naik nyaris 340 poin, ditopang kenaikan bagian Apple sebesar 5%. Indeks S& P 500 naik 1, 3%, menghentikan koreksi 4 hari berendeng. Indeks Nasdaq dan Russell 2000 kompak mencetak rekor baru, naik 1, 25% dan 2, 4%.

Sebelumnya, para penyusun undang-undang di AS tengah membahas dua proposal terbaru untuk memuluskan stimulus senilai US$ 748 miliar. Pertama, perlindungan kesinambungan usaha dan keuangan untuk negeri lokal senilai US$ 160 miliar.

Kedua, program tunjangan pengangguran dan kredit lunak di bawah program perlindungan gaji dengan nilai masing-masing agenda mencapai US$ 300 miliar. Secara rilis data ritel, pelaku rekan pun menunggu pernyataan The Fed mengenai prospek ekonomi AS.

“Stimulus sedang menjadi fokus kunci bagi rekan, karena menjadi jembatan yang diperlukan bagi vaksinasi secara luas, ” Lindsey Bell, Kepala Perencana Investasi Ally Invest dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International .

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)