Saturday, April 17

IHSG Sudah Reli 9 Pekan, Mau Ngarep Cuan Gokil Lagi?

Jakarta, CNBC Indonesia –  Pasar keuangan bervariasi dalam pekan ini, pelaku pasar memiliki sentimen negatif datang dari pada negeri dimana kasus penyakit kelanjutan virus corona (Covid-19) mencatat rekor tertinggi, tetapi yang positif malah datang dari eksternal.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli menjadi 9 minggu beruntun setelah membukukan penguatan 0, 47% ke 5. 810, 483. Selama periode tersebut, total IHSG melesat nyaris 18% dan berkecukupan di level tertinggi sejak Februari.

Meski berhasil  bangkit, tetapi investor asing melakukan kesibukan jual bersih (net sell) nyaris Rp 4 triliun sepanjang minggu lalu.


Sementara itu nilai tukar rupiah melemah 0, 11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) Rp 14. 085/US$ sepanjang pekan ini, sekaligus mengakhiri kinerja tak pernah melemah dalam 9 pekan terakhir. Rinciannya, menguat 8 pekan dan seminggu stagnan.

Kemudian nilai obligasi mayoritas menguat, tercermin sebab yield -nya yang mengalami penurunan. Untuk diketahui, pergerakan yield berbanding terbaik dengan harga obligasi, ketika harga terbang yield akan turun, begitu juga sebaliknya.

Yield Tulisan Berharga Negara (SBN) tenor 1 tahun naik 0, 4 basis poin (bps) menjadi 3, 801%, sementara yield tenor lainnya menurun. Artinya hanya SBN tenor 1 tahun yang melemah, sisanya menguat.

Yield SBN tenor 10 tahun turun 2 bps menjadi 6, 198%, dan masih berada di depan level terendah sejak Januari 2018.

Tekanan bagi pasar keuangan datang setelah kasus Covid-19 mencetak rekor penggandaan harian 6. 267 kasus pada hari Minggu (29/11/2020). Rekor tersebut kemudian pecah lagi pada Kamis (3/12/2020), jumlah kasus baru tercatat sebanyak 8. 369 orang.

Dalam 2 pekan final, rata-rata penambahan kasus juga meningkat menjadi 1, 03% per keadaan, dibandingkan 2 pekan sebelumnya 0, 92% per hari.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, bahkan mengatakan penambahan kasus tersebut tidak mampu ditoleransi.

“Kita bisa melihat dalam beberapa hari final kita mencatatkan rekor-rekor baru. Sebelumnya kita belum pernah mencapai dalam atas 5. 000, tapi sayangnya kasus positif semakin meningkat bahkan per hari ini menembus bertambah dari 8. 000 kasus. Itu angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir, ” perkataan Prof Wiku, dalam konferensi pers Kamis (3/12/2020).

Lonjakan kasus tersebut tentunya membuat investor cemas jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan kembali diketatkan, yang dapat menghambat pemulihan ekonomi Indonesia.

Kabar buruk bagi pasar keuangan dalam jati Senin (7/12/2020) besok, sebab peristiwa Covid-19 hari ini dan kemarin di atas 6. 000 orang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada Minggu (6/12/2020) hingga pukul 12. 00 WIB kasus baru tercatat 6. 089, sementara kemarin sebanyak 6. 020 kasus.

Alhasil, tersedia risiko IHSG, rupiah dan rekan obligasi mengalami pelemahan Senin kelak.