Saturday, April 17

Hotel di Bali Berdarah-Darah, Wagub: Suasana Makin Buruk!

Jakarta, CNBC Indonesia –   Kondisi bisnis perhotelan di Bali masih terpuruk, jauh dari status normal akibat hantaman pandemi  covid-19. Arah pemulihan sempat ada era ada liburan panjang beberapa waktu lalu tapi belum bisa menetapkan ekonomi Bali dari keterpurukan.

Wakil Gubernur (Wagub) Bali  Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati  blak-blakan soal kondisi bisnis pariwisata perhotelan di Bali saat ini, banyak perusahaan hotel butuh uluran tangan pemerintah.

“Kalau ana lihat tanggung jawab perusahaan untuk memberi sekadar uang kesejahteraan bagi karyawannya tentu kondisi sekarang semakin memburuk. Karena selama ini tak ada pemasukan sama. sekali, ” kata pria yang biasa disapa Cok Ace ini kepada CNBC Indonesia, Selasa (24/11).


Tahu kondisi ini, Pemprov Bali mengajukan pinjaman lunak bidang ketenagakerjaan untuk perusahaan terutama di sektor pariwisata yang terdampak parah pandemi  covid-19.

“Sudah diproses, semoga disetujui (pemerintah), ” katanya.

Pemerintah Provinsi Bali sedang mengusahakan pinjaman lunak (soft loan) kepada pemerintah pusat.

Pinjaman lunak tersebut digunakan sebagai modal kerja bagi pengusaha di sektor pariwisata dan pendukung pariwisata di Bali. Adapun pinjaman yang diharapkan sebesar Rp 9, 7 Triliun atau 7% dibanding kontribusi devisa Bali terhadap negeri.

“Kami mengajukan pinjaman lunak jumlahnya Rp 9, tujuh triliun. Kami ambil dari upah di perusahaan tahun 2019. Tersebut untuk menggerakkan ekonomi daerah pertama sektor pariwisata, ” katanya  Jumat (13/11/2020).

Bisnis perhotelan di Bali terpukul sangat membanting ditandai dengan ekonomi Bali yang minus paling parah dari sekian provinsi di Indonesia akibat pandemi covid-19.  

Pengantara Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHMA) Bali I Made Ramia Adnyana  sempat mengatakan saat ini memang tingkat okupansi hotel di Bali masih jauh dibanding normal. Bahkan ada beberapa hotel yang okupansinya hanya 10% atau 15% saja, alias 85%-90% kamarnya kosong.

“Sekarang okupansi tak lebih dari 30%, padahal normal bisa 80-90%, sekarang sedang ada yang di bawah itu, ada 15% sampai 10% saja, ” kata Ramia.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)