Tuesday, December 1

Bahkan Cerah! BTN Targetkan Kredit Tumbuh 5% di 2021

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menargetkan pertumbuhan rekognisi pada 2021 bisa mencapai sekitar 5% yang didorong dari pembagian KPR. Selain KPR, perusahaan selalu akan meningkatkan penyaluran kredit korporasi yang berhubungan dengan infrastruktur perumahan.

“Misalnya kami merembes pada sindikasi PLN, karena hubungannya dengan perumahan untuk sambungannya rumahnya. Kami juga akan mengoptimalkan likuiditas yang lebih baik dengan menempatkannya di SBN, ” kata Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN, Nixon L. P. Napitupulu dalam CNBC Indonesia Award: The Most Inspiring Banks, Jumat (20/11/2020).

Dia pun membuktikan saat ini kondisi perusahaan mempunyai likuiditas yang sehat, setelah tahun-tahun sebelumnya likuiditas Bank BTN masyhur tipis. Nixon menambahkan LDR BTN saat ini diposisi 88%, sehingga memiliki keleluasaan dalam penyaluran pengaruh.


“Beruntung lagi ada shifting funding ke bank besar dan BUMN, kami memiliki likuiditas jauh di atas rata-rata. Jadi rasanya likuiditas kami kuat hari ini, kami juga berusaha dorong ke developer untuk menyerap rekognisi yang lebih dari biasanya. Awak menurunkan pricing, kami dalam iklim yang baik jika bicara likuiditas, ” jelas Nixon.

Dia juga memproyeksi bahwa laba bersih untuk keseluruhan 2020 bisa tumbuh di berasaskan 30% dibandingkan setahun sebelumnya. Nixon menjelaskan bahwa kondisi BTN bertentangan dengan bank lain pada tahun ini. Pasalnya, BTN mencatatkan penambahan laba, sementara mayoritas bank lain mencatatkan penurunan laba.

“(Tahun depan) Tumbuh di atas 30%, ” ujarnya.

Kuncinya, tutur Nixon, karena BTN sudah mempersiapkan pencadangan yang pas besar sesuai PSAK 71. Kejadian ini berdampak laba BTN tahu tertekan pada 2019 lalu

“Walau situasinya berat, meskipun bisnis makro berat kami bisa mengalami pertumbuhan laba. Persiapan telah dilakukan akhir tahun lalu, ” ujar Nixon.

Tarikh ini, di tengah pandemi pula pembelian rumah masih tumbuh dalam tengah pandemi untuk rumah KPR subsidi, dengan harga sekitar Rp 160 juta yang masih muncul 5-6%. Permintaan juga masih muncul untuk rumah non subsidi dengan harga sekitar Rp 300 juta.

Sementara yang permintaannya terhenti adalah KPR rumah dengan harga di atas Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Nixon menilai segmen inilah dengan banyak melakukan penundaan pembelian karena memiliki prioritas lain yang lebih mendesak dibandingkan investasi dengan pembelian rumah.

“Rumah merupakan kebutuhan pokok, sudah pasti orang akan tetap beli rumah. Dengan mendorong pembelian rumah adalah ijab kabul dan pasangan baru. Kegiatan berfungsi, sekolah, membuat masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan rumah, ” cakap Nixon.

Dia mengakui di awal pandemi dan pembatasan sosial berskala tumbuh (PSBB) sempat ada penurunan suruhan pembelian rumah, terutama untuk investasi. Namun, masih ada 7 juta keluarga yang belum memiliki rumah sehingga dia optimistis permintaan sedang akan meningkat. Apalagi, pemerintah sudah membuat berbagai program untuk bagian ini sehingga tetap ada pembelian rumah dari KPR subsidi.

“Walaupun pandemi orang tetap akan membeli rumah terutama untuk ditempati bagi pasangan baru, oleh karena itu yang mau beli rumah pasti ada. Tapi yang buat investasi itu yang menurun. Kami dasar dorongnya kesana, akad-akad majority ialah MBR, ” katanya.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)