Tuesday, December 1

Nyaris Tembus Rp 14. 000/US$, Rupiah The Best di Asia

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (9/11/2020), hingga nyaris menembus Rp 14. 000/US$.

Kemenangan Joseph ‘Joe’ Biden  dan Kamala  Harris di pemilihan presiden AS melayani petahana  Donald Trump-Mike Pence sedang menjadi pemicu utama penguatan rupiah.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan bangkit 0, 28% di Rp 14. 150/US$. Rupiah tidak pernah merembes ke zona merah, penguatan malah terus terakselerasi hingga 1, 32% di Rp 14. 020/US$.


Di akhir perdagangan rupiah berada di level Rp 14. 050/US$, menguat 0, 99%. Tangga tersebut merupakan yang terkuat sejak 19 Juni lalu.  

Dengan penguatan tersebut, rupiah sekali lagi menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Hingga pukul 15: 17 WIB, hanya won Korea Selatan yang mendekati penguatan rupiah sebesar 0, 79%.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata kekayaan utama Asia

Biden dari Partai Demokrat berhasil mengalahkan petahana dari Partai Republik, Donald Trump.

Berdasarkan data dari NBC News , Biden menyabet 279 electoral vote , sementara Trump 214 electoral vote. Meski perhitungan di kurang negara bagian masih berlangsung, tetapi peroleh Biden sudah melebihi pemisah minimal 270 electoral vote .

Kemenangan Biden dianggap menguntungkan negara-negara emerging market seperti Indonesia, sebab perang dagang AS-China kemungkinan akan berakhir atau setidaknya tidak memburuk. Selain tersebut, stimulus fiskal juga akan bertambah besar ketimbang yang akan digelontorkan Trump dan Partai Republik.

Nancy Pelosi, Ketua House of Representative (DPR) dari Kelompok Demokrat sebelumnya mengajukan stimulus fiskal dengan nilai US$ 2, 2 triliun, yang tidak disepakati sebab Pemerintahan Trump, dan ditolak sebab Partai Republik.

Semakin besar stimulus berarti semakin banyak uang yang berputar di perekonomian, secara teori dolar AS akan melemah. Negara-negara emerging market seperti Indonesia juga berpotensi kecipratan aliran modal yang membuat rupiah perkasa.

Terbukti, keterangan Bank Indonesia menunjukkan pada masa 2-5 November 2020, transaksi nonresiden di pasar keuangan domestik membukukan beli neto Rp3, 81 triliun. Rinciannya, beli neto di rekan SBN sebesar Rp3, 87 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp 0, 06 triliun.

Sementara bahan dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan sepanjang pekan lalu, investor ganjil melakukan aksi beli ( net buy ) sebesar Rp 1, 2 triliun.

Selain itu, rupiah serupa mendapatkan tenaga dari data pembicaraan berjalan ( current account ) yang diperkirakan di mencatat surplus untuk pertama kalinya dalam nyaris 10 tahun terakhir di kuartal III-2020.

Data transaksi berjalan akan dirilis Selasa besok.

Transaksi berjalan merupakan satu dari perut komponen Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), dan menjadi faktor yang sejenis krusial dalam menentukan laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung bertambah stabil.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)