Wednesday, December 2

Dahlan: Saat Saya Menteri, Ada Titipan-Titipan Komisaris Bank

Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sibak suara soal titipan posisi komisaris di beberapa perbankan yang berharta di bawah BUMN. Ia melegalkan jika memang seringkali ada titipan posisi komisaris di BUMN dibanding pengalamannya menjabat sebagai menteri BUMN.

“Sewaktu saya menjelma menteri, tentu ada titipan-titipan komisaris untuk bank-bank besar itu, ” kata Dahlan dalam diskusi Indonesia Leaders Talk ke-13 bertajuk ‘BUMN: Antara Aset dan ATM Penguasa’ yang digelar oleh politisi Mardani Ali Sera  dikutip Minggu (8/11).

Dahlan mengaku hendak melihat orangnya terlebih dahulu. Jika dirasa tidak mengerti perbankan dan tidak mampu menduduki posisi komisaris, ia akan menolaknya.


“Setelah orangnya (dirasa) ‘Loh membentuk ini tidak mengerti perbankan, tapi kok minta jadi komisaris’, biasanya saya dekati begini: ‘Pak, Abu kan latar belakangnya bukan bank. Saya bisa saja mengangkat bapak, tapi apakah bapak siap buat ujian? ” lanjutnya.

“Ini sebetulnya kata-kata untuk menolak, tetapi kan kita orang Timur tidak bisa menentang (secara langsung) begitu. Nah lazimnya mereka akan mundur sendiri kok. ”

Dahlan menegaskan jika posisi direksi dan komisaris perbankan milik BUMN tidak bisa sembarangan diisi. Untuk mendapatkan letak tersebut, kandidat harus memiliki kepandaian, serta harus mengikuti ujian melanda perbankan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jadi (kandidat) harus ada dan lulus teguran mengenai perbankan yang dilaksanakan oleh OJK, baru bisa jadi komisaris, kalau khusus perbankan, ” tukasnya.

Sementara Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya juga membenarkan banyak pihak yang memberikan titipan nama yang disampaikan kepadanya buat dijadikan direksi atau komisaris dalam perusahaan pelat merah. Dia serupa tak memungkiri dari titipan tersebut juga ada yang lolos buat mengisi kursi-kursi yang menjadi rebutan banyak pihak ini.

Menurut Erick adanya titipan itu merupakan hal yang wajar adanya titipan dan dia tak mengekalkan bahwa nama-nama tersebut juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan perombakan manajemen di BUMN.

“Hal yang wajar saya rasa (ada titipan), tetapi yang penting kompeten dan prosesnya baik. Kalau memang diajukan, (hitam di atas putih) iya dong, itu yang kita mau. Gak semuanya diterima, buktinya banyak yang kecewa juga, ” kata Erick dalam program ‘Mata Najwa’ yang disiarkan Trans7 di Rabu (5/8/2020) malam lalu.

Menurut dia, sejauh tersebut hanya 10% saja dari total titipan tersebut yang diangkat tersebut pun harus tetap melalui proses yang ditentukan oleh kementerian. Hal yang penting orang tersebut kudu memiliki kapabilitas dan memberikan sumbangan untuk perusahaan yang ditempatinya.

Erick menjelaskan, untuk menjelma direksi dan komisaris BUMN memerlukan proses yang panjang, terutama untuk 40 BUMN yang penting harus memasuki proses tim penilai akhir (TPA). Proses TPA kali ini juga diklaim berbeda dengan cara TPA sebelumnya, selain meminta pertimbangan Presiden, masukan dari menteri-menteri terpaut juga diperlukan.

Selain itu, juga dilakukan background check buat memastikan track record kandidat direksi dan komisaris tersebut benar dan bersih.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)