Tuesday, December 1

Ganjil Masuk Rp 1, 2 T ke Bursa RI, 5 Bagian Ini Laris Diborong

Jakarta, CNBC Indonesia –  Minggu ini Dewi Fortuna medium berpihak kepada bursa saham domestik. Investor asing yang tadinya jaga jarak kini sudah memberanikan muncul untuk masuk dan membeli aset-aset ekuitas dalam negeri.  

Bersama dengan indeks pola saham Benua Kuning lainnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lulus melesat pada periode 2-6 November 2020. Dalam periode tersebut IHSG naik 4, 31%.   IHSG berhasil ditutup di level 5. 335, 53.

Masukan perdagangan mencatat, aksi beli suci asing mencapai Rp 1, 2 triliun di seluruh pasar seminggu terakhir.  


Pasar menyambut gembira potensi kemenangan Biden tersebut, terutama untuk negara-negara tumbuh seperti Indonesia yang valuasi asetnya sensitif terhadap pergerakan dolar GANDAR.

Apabila sampai di akhir perhitungan Biden masih tetap unggul dan jadi presiden, dolar AS akan semakin tertekan. Salah satu pemicu tertekannya dolar AS adalah kebijakan fiskal yang cenderung ekspansif sehingga menyusun injeksi likuiditas di perekonomian riil.

Pelemahan dolar AS akan dibarengi dengan keluarnya arus modal dari AS. Para pemilik modal akan cenderung membawa uangnya dan menanamkannya ke aset-aset keuangan negara berkembang.

Inflow uang dari para pemodal GANDAR yang dibelikan aset-aset ekuitas Desa Air menjadi mengalami kenaikan makna seperti yang terjadi di minggu ini pada IHSG.  

Asing tercatat memborong lima saham perusahaan Indonesia dengan ulah beli bersih lebih dari Rp 100 miliar dalam sepekan. Perut dari lima saham tersebut adalah saham dari sektor perbankan, kepala sektor aneka industri, satu sektor pertambangan dan satu sektor konsumen.

Saham yang memutar banyak diborong oleh asing minggu ini adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Poin turnover BBCA  dalam sepekan menyentuh Rp 3, 6 triliun dan asing memborong saham BBCA  senilai Rp 1, 2 triliun.  

BBCA  merupakan  emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Bank yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh Grup Djarum ini berhasil membukukan laba sebesar Rp 20, 03 triliun atau mendarat 4% (yoy) pada sembilan kamar tahun ini.  

Meski mengalami penurunan, aset BBCA  berhasil tembus Rp 1. 000 triliun atau tumbuh dobel digit sebesar 12, 3% (yoy). Dalam sisi lain BBCA  merupakan bank yang memiliki likuiditas yang sangat longgar.  

Likuiditas tersebut juga ditopang oleh banyaknya dana murah (Current Account Saving Account/CASA) perbankan yang mencapai 76% dari total dana pihak ke-3 di bulan September lalu.  

Kemudian saham ke-2 yang juga banyak diboyong oleh asing adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk  (BBRI). Bank pelat merah ini merupakan salah satu bank dengan aset terbesar di Indonesia. Seminggu ini, asing telah memborong saham BBRI  dengan nilai sebesar Rp 440, 9 miliar.  

Sektor perbankan nasional memang terbilang seksi. Selain semakin memiliki ketahanan yang baik dari sisi permodalan & likuiditas pasca krisis moneter 1998, sektor perbankan RI juga masyhur dengan imbal hasil dan profitabilitas yang tinggi di mata langka.

Selain itu posisi perbankan terhadap perekonomian nasional yang sentral serta masih banyaknya unbanked  population di Indonesia menjadi peluang yang dilirik oleh investor asing.  

Saham lain dengan juga diborong oleh asing ialah saham emiten perusahaan konglomerasi nasional PT Astra International Tbk  (ASII). Jumlah anak perusahaan yang benar banyak, diversifikasi industri luas & integrasi ekosistem yang di setiap rantai pasok perusahaan holding tersebut membuat ASII  adalah saham yang menarik dan layak dikoleksi sebab asing.  

Lagipula saham ASII  juga masih terkoreksi dalam sebesar 15, 88% dengan year to date. Jelas ini semakin menjadi daya tarik bagi investor asing untuk mengkoleksi bagian blue chip ini.  

Investor asing juga tak mau ketinggalan untuk masuk ke sektor pertambangan emas di Desa Air. Saham yang dipilih sebab asing adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk  (MDKA).

Asing borong Rp 132, 2 miliar saham MDKA  yang kebanyakan sahamnya dikuasai oleh emiten Sandiaga  Uno  yaitu PT Saratoga Investama  Sedaya Tbk  dengan kepemilikan sebesar Rp 19, 13%.

Berinvestasi emas benar hal yang sedang ngetren kala dolar AS sedang jatuh serupa sekarang ini. Investor asing tak mau melewatkan peluang kenaikan makna emas lebih lanjut lantaran peluang Biden  menang besar dan hendak semakin mendepresiasi dolar AS.  

Investor asing pula masuk ke sektor konsumen melalui saham PT Unilever Indonesia Tbk  (UNVR). Indonesia merupakan salah mulia negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia dan ekonominya ditopang oleh konsumsi.  

Kinerja perusahaan yang solid, kapitalisasi pasar yang besar dan jangkauan ke pasar konsumen RI yang sangat besar adalah keunggulan UNVR  yang kemungkinan menjadi alasan investor asing memborong saham ini secara nilai sebesar Rp 117, dua miliar.  

TIM RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)