Wednesday, December 2

Topan Zeta Bikin Harga Minyak Negeri Merangkak Naik

Jakarta, CNBC Indonesia porakporanda Harga minyak mentah dunia berhasil berbalik menguat di tengah pelepasan produksi beberapa perusahaan migas pokok Amerika Serikat akibat hantaman Badai Zeta di Teluk Meksiko.

Hal ini membuat kehormatan minyak berhasil rebound setelah sebelumnya terkoreksi 5%. Dalam laporannya, Reuters menuliskan, pada Rabu kemarin, patra mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 7 sen, atau 0, 19% menjelma $ 37, 46 per barel, sementara minyak mentah Brent berjangka naik 4 sen, atau 0, 10%, menjadi $ 39, 16 per barel.

Taat Chief Market Strategist Stephen Innes, minyak mentah WTI berada dalam rentang harga $ 36, 45 hingga $ 36, 95 telah menjadi zona beli sejak awal September.


“Jika harga jatuh melalui rentang tersebut akan menjadi tanda bearish, katanya, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (29/10/2020).

Namun serupa itu, para analis memperkirakan, dampak topan Zeta diperkirakan hanya berumur kompak dan kembalinya produksi AS mau menambah kelebihan pasokan yang tersedia karena Libya dengan cepat memajukan produksi setelah blokade delapan kamar.

Data dari Administrasi Informasi Energi A. S. di hari Rabu menunjukkan, stok minyak mentah AS tercatat naik 4, 3 juta barel dalam seminggu hingga 23 Oktober, peningkatan itu juga lebih besar dari yang diperkirakan.

Namun, meningkatnya kasus COVID-19 di Eropa, dengan telah menyebabkan pembatasan baru membina moblitas orang kian terbatas ikut membayangi harga minyak dunia.

Misalnya saja, Prancis hendak mewajibkan orang untuk tinggal di rumah untuk semua kecuali denyut penting, sementara Jerman akan mengunci bar, restoran, dan teater mulai 2 November hingga akhir bulan ini.

“Kebangkitan pandemi menekan OPEC untuk menunda kenaikan produksi yang direncanakan pada Januari, ” kata ANZ Research di sebuah catatan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC +, berencana untuk mengurangi pengurangan produksi itu pada Januari 2021 dari 7, 7 juta barel per keadaan (bph) saat ini menjadi kira-kira 5, 7 juta bpd.

Sementara itu, katalis yang lain mengenai prospek perselisihan perdagangan jarang China dan Amerika Serikat serupa masih belum jelas.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)