Tuesday, December 1

Gokil! China Buat Senjata Hipersonik, Bisa Kalahkan Rudal AS

Jakarta, CNBC Indonesia –  China tak hanya menjadi kekuatan ekonomi dunia baru, tetapi serupa menjadi ‘jagoan’ militer global mengikuti Amerika Serikat (AS) sebagai sherrif -nya negeri. Kini Negeri Tirai Bambu tersebut disebut mengembangkan senjata hipersonik yang bisa mengalahkan rudal balistik pelik Paman Sam.  

Melansir China Power Project dari Center for Strategic & International Studies (CSIS), salah satu sistem terpenting di kawasan ini adalah Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMD) AS berbasis laut.


Aegis adalah kumpulan sensor, komputer, perangkat lunak, layar, peluncur senjata, dan senjata terintegrasi. Bersama-sama, mereka memfasilitasi intersepsi rudal balistik jarak pendek hingga menengah.

Angkatan Laut AS diproyeksikan  bakal memiliki 48 kapal berkemampuan BMD Aegis pada tahun 2021 dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 65 pada tahun 2025.

Saat ini bentuk pertahanan rudal balistik ini mampu dibilang yang paling canggih  dan  memberikan keamanan dari serangan rudal musuh. Namun  efektivitasnya  menurun akibat  kemajuan teknologi rudal hipersonik.

Sebagai informasi, senjata hipersonik  yang mencakup kendaraan luncur hipersonik (HGV) dan rudal jelajah hipersonik, mampu bergerak di atas lima kali kecepatan suara (Mach 5, atau 1, 72 km/ detik) untuk periode yang lama. Kecepatan dan jalur penerbangan yang dapat bermanuver membuat  senjata ini menjelma sulit dilacak dan dicegat.

China tengah mengembangkan senjata model ini untuk meng- counter sistem pertahanan rudal balistik milik berbagai negeri seperti AS, India hingga Jepang. China sudah menginisiasinya sejak enam tahun silam.  

Berbagai uji coba telah dilakukan China untuk mengembangkan senjata hipersonik. Sejak awal Januari 2014 datang tutup tahun lalu uji coba dikerjakan sebanyak sembilan kali. Delapan dari sembilan uji coba dilaporkan jadi sementara satu kali tercatat gagal.

Senjata hipersonik  China yang kini statusnya kemungkinan telah beroperasi itu diberi nama DF-17 dan diperkenalkan pertama kali di dalam 1 Oktober tahun lalu era parade militer nasional diadakan.  

DF-17  disebut dapat melakukan perjalanan di dalam kecepatan Mach 5-10 (1, 72-3, 43) km/detik) untuk jarak yang sangat jauh hingga 1. 800-2. 500 km. Berikut karakteristiknya:

Pengembangan ‘bombastis’ militer China ini terjadi di tengah makin panasnya hubungan China dengan sejumlah negara. Presiden China Xi Jinping beberapa kali tahu militernya untuk siap perang.

Terbaru, sebagaimana ditulis South China Morning Post (SCMP), ia berpesan ke Angkatan Laut (AL) kampung itu meningkatkan kesiapan tempur untuk menjaga wilayahnya. Pernyataan ini ditegaskan Xi di tengah konflik yang kian melebar dengan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara pada kawasan Laut China Selatan, tercatat Taiwan.

Sementara itu, negara lain yang juga memajukan senjata hipersonik ini adalah Rusia. Senjata hipersonik yang dikembangkan Rusia disebut bahkan lebih canggih dibandingkan China.

Pada Desember 2019, Rusia menyatakan telah lulus menerapkan sistem Avangard hipersonik. Itu diklaim Rusia dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan Mach 20 (6, 86 km/detik) dengan jangkauan terbang lebih dari 6. 000 km.

Tak mau kalah, AS dan India pun menggelar senjata yang sama. Pada Maret 2020, AS menguji kendaraan meluncur hipersonik dalam uji terbang senggang jauh untuk  melanjutkan penelitian & pengembangannya selama bertahun-tahun.

Sementara itu, India pertama kala berhasil melakukan demonstrasi rudal hipersonik jarak pendek pada September 2020.  

Beberapa negara kini sedang membangun sistem pertahanan untuk menanggapi ancaman yang ditimbulkan oleh rudal hipersonik. Pada Maret 2020, Rusia mengklaim bahwa sistem pertahanan rudal S-400 berhasil mengacaukan semua rudal hipersonik dalam latihan tembak langsung.

GANDAR telah memulai beberapa program untuk mengembangkan pertahanan rudal hipersonik, tercatat Glide Breaker, Sistem Senjata Pertahanan Hipersonik, Sistem Senjata Fase Glide Regional, 9 dan Sensor Kawasan Pelacakan Hipersonik dan Balistik.

Sejak 2020, Badan Pertahanan Rudal AS telah menyelidiki cara untuk mengintegrasikan mekanisme pertahanan kendaraan luncur hipersonik ke dalam arsitektur pertahanan rudal balistik AS dengan ada, termasuk Aegis.

Jumlah senjata hipersonik global sedang sedikit untuk saat ini. Banyak pembuat kebijakan menganggap teknologi itu penting untuk masa depan pencegahan rudal.

Negara-negara dengan mampu menguasai teknologi dan meningkatkannya akan mendapatkan keuntungan yang signifikan dibandingkan negara-negara yang hanya memakai sistem pertahanan rudal tradisional.

Keunggulan itu akan bertahan hingga musuh mereka mampu memajukan sistem pertahanan yang andal melawan senjata hipersonik. Pengembangan senjata peluru kendali hipersonik  China memberikan keunggulan untuk negara tersebut yang sekarang padahal menjadi sorotan global akibat pandemi  Covid-19, terutama dari rivalnya  AS.

Pengembangan teknologi dalam bidang pertahanan dan militer dengan canggih dilakukan di tengah tingginya tensi geopolitik global yang langsung tereskalasi.  

(twg)