Tuesday, December 1

Cadangan Raksasa, Produksi Gas Blok Sakakemang Jumbo Gak Ya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan produksi gas dari Blok Sakakemang untuk tahap awal mencapai kira-kira 85 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan perkiraan produksi tersebut berdasarkan dasar pengembangan ( Plan of Development / POD) Periode 1 Blok Sakakemang yang tengah dibahas bersama antara SKK Migas, Kementerian Energi dan Sumber Gaya Mineral dan Repsol selaku operator blok.

Namun sayangnya, persetujuan POD Tahap 1 itu hingga kini masih menunggu pengesahan Menteri ESDM.


“POD I Sakakemang produksinya 85 MMSCFD, sedang didiskusikan dengan Kementerian ESDM untuk approval (persetujuan), ” kata Dwi dalam konferensi pers secara maya Kinerja Hulu Migas Kuartal III Tahun 2020, Jumat (23/10/2020).

Bila dibandingkan dengan produksi gas terbesar di sejumlah blok dalam negeri saat ini, produksi gas Blok Sakakemang  tahap awal sebesar 85 MMSCFD  itu bisa dibilang tidak gembung. Lima blok gas dengan produksi gas terbesar saat ini sudah memproduksi gas di atas 400 MMSCFD  atau bahkan di pada 1. 000 MMSCFD.

ENI  Muara Bakau BV misalnya, yang mengoperasikan Blok Muara Bakau, telah menyalurkan gas sebesar 454 MMSCFD  hingga September 2020. Tengah BP Berau  Ltd, produsen gas terbesar di Indonesia, telah meneruskan gas sebesar 1. 101 MMSCFD  selama sembilan bulan 2020.

Dia mengatakan, pembahasan POD Tahap 1 kini juga sedang terkait harga jual gas nantinya. Di satu sisi pemerintah meminta harga jual gas mengikuti Peraturan Menteri ESDM No. 8 tahun 2020 di mana harga jual gas pipa ke industri maksimal US$ 6 per MMBTU.

Namun karena di bagian lain terkait keekonomian proyek, Repsol menginginkan harga gas sebesar US$ 7 per MMBTU. Dengan masukan tersebut, maka menurutnya kemungkinan makna akan dikombinasikan, yakni sesuai secara Peraturan Menteri ESDM tersebut serta juga harga gas yang dipergunakan untuk pembangkit listrik di Golongan Rokan karena rencananya gas akan disalurkan ke pembangkit listrik di Blok Rokan ini.

“Mengenai harga, kita buat mix antara yang dipakai untuk pabrik sesuai Permen 08 Tahun 2020 (Permen ESDM) dan yang dipergunakan pembangkit listrik di Rokan. Oleh karena itu, kita masih diskusikan itu. Kita harap, harganya bisa di lembah US$ 6 dan ini semua dibahas terus dengan Repsol jadi operator, ” tuturnya.
Bila harga gas yang ditetapkan di bawah US$ 7 per MMBTU, maka menurutnya ini akan mengganggu keekonomian dari proyek Blok Sakakemang ini.

“Jadi, kira-kira kalau di luar kemarin-kemarin tersedia tersebar harga jual gas US$ 7, ada US$ 6, dan lain-lain, tentu saja itu akan disesuaikan dengan bagaimana serapan dan memenuhi kebijakan pemerintah untuk menekan kehormatan gas bagi industri, tetapi dapat keekonomian yang wajar bagi investor. Ini yang kita bahas serta kita berharap bisa selesai sesegera mungkin, ” jelasnya.

Begitu juga dengan perkiraan kadar investasi proyek, menurutnya nilai investasi masih terus didiskusikan agar mampu ditekan seefisien mungkin, sehingga mampu berdampak pada penurunan harga jual gas.

“Sebagai investor mereka sangat mengharapkan jaminan keekonomian. Level keekonomiannya hingga sekarang masih didiskusikan, mengenai nilai investasi ataupun capex  (capital expenditure)  seefisien mungkin. Dengan capex yang lebih efisien, kita akan bisa mendapatkan potensi penjualan gas yang bisa memenuhi kebijakan dalam negeri, ” ungkapnya.

Laksana diketahui, sudah beberapa bulan lamanya Repsol mengajukan proposal POD Tahap 1 Blok Sakakemang ini. Lantaran total perkiraan cadangan sebesar dua triliun kaki kubik (TCF), bakal dikembangkan Tahap 1 terlebih dahulu dengan cadangan sekitar 0, 5 TCF.

Blok Sakakemang yang dioperasikan Repsol Indonesia kini menjadi andalan untuk meningkatkan sumber pasokan gas Indonesia pada kira-kira tahun mendatang. Sejak awal 2019 lalu pemerintah mengungkapkan pengharapan bilangan atas blok gas raksasa ini karena telah ditemukannya potensi cadangan gas hingga 2 TCF di blok ini. Ini merupakan basi gas terbesar yang pernah ada selama 18 tahun terakhir.

Blok Sakakemang menemukan potensi cadangan sampai 2 TCF daripada sumur Kaliberau Dalam 2X (KBD2X) di Blok Sakakemang, Sumatera Selatan. Saat ini Repsol tengah cara sertifikasi cadangan terbukti 1 TCF tersebut, untuk kemudian memasukkan dasar pengembangan. Pemerintah bahkan menargetkan supaya Blok Sakakemang ini bisa berangkat produksi pada 2021.

Percepatan produksi Blok Sakakemang serupa disesuaikan dengan kesiapan konsumen dalam menyerap pasokan gas ini.

Repsol menemukan cadangan gas ini dari sumur Kaliberau Di dalam 2X (KBD2X) dengan kedalaman 2. 430 meter, yang ditajak dalam 20 Agustus 2018. Nantinya gas produksi Blok Sakakemang akan diintegrasikan dengan fasilitas produksi di Kelompok Corridor. Wilayah Sakakemang memang bersebelahan dengan wilayah Corridor.

Blok Sakakemang ini dioperasikan Repsol yang memiliki hak partisipasi 45% dan selebihnya dimiliki oleh Petronas 45% dan MOECO 10%. Dalam 2015, Repsol SA mengakuisisi Talisman Energy Inc senilai US$ 8, 3 miliar. Dengan demikian, arah minyak yang tadinya dikelola Talisman diambil alih oleh Repsol.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)