Tuesday, December 1

Covid-19 Melonjak, Anies Ancam Tarik Rem Darurat Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengancam akan menarik rem perlu lagi alias memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) apabila berlaku lonjakan kasus Covid-19 di Ibu Kota.

“Dalam kejadian ini, seperti diketahui, Pemprov DKI Jakarta dapat menerapkan kembali kebijakan Rem Darurat (Emergency Brake). Berarti, apabila terjadi tingkat penularan yang mengkhawatirkan, Pemprov DKI Jakarta dapat menghentikan seluruh kegiatan yang sudah dibuka selama PSBB Masa Transisi dan menerapkan kembali pengetatan, ” ujar Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, pada Minggu (25/10).

Pengetatan PSBB akan berdampak terhadap pembatasan sebagian luhur kegiatan usaha, mulai dari perkantoran, tempat hiburan hingga restoran. Peristiwa ini menjadi kekhawatiran karena omzet dunia usaha akan turun istimewa bila PSBB diperketat atau dengan juga disebut sebagai PSBB Mutlak.


Pada hari itu, Anies Baswedan kembali memperpanjang Penyekatan PSBB Masa Transisi menuju bangsa sehat, aman, dan produktif semasa 14 hari, terhitung tanggal 26 Oktober sampai 8 November 2020. Hal ini sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1020 Tahun 2020.

Pada keputusan itu, jika tidak terdapat peningkatan kasus yang signifikan selama perpanjangan PSBB Masa Transisi ini, berdasarkan buatan pemantauan dan evaluasi Gugus Suruhan Percepatan Penanganan COVID-19 tingkat Provinsi, maka akan dilanjutkan perpanjangan selama 14 hari berikutnya. Namun, andaikata terjadi peningkatan kasus secara istimewa, maka pemberlakuan PSBB Transisi tersebut dapat dihentikan.

Bila melihat dari pergerakan situasi COVID-19 di DKI Jakarta dalam dua minggu terakhir, penularan relatif melandai, ditandai rata-rata persentase kasus tentu sepekan terakhir pada 9, 9% dengan ratio test 5, 8 per-1000 penduduk dalam sepekan belakang. Selain itu, rata-rata keterisian tempat tidur isolasi dalam dua minggu terakhir cenderung menurun dari 64% dalam 12 Oktober 2020 menjadi 59% pada 24 Oktober 2020.

Keterisian tempat tidur ICU juga relatif menurun dari 68% pada 12 Oktober 2020 menjelma 62% pada 24 Oktober 2020. Indikator pengendalian COVID-19 dari FKM UI yang sempat menurun dalam minggu lalu, yaitu dari nilai 60 (18 Oktober 2020) sudah membaik menjadi skor 64 (24 Oktober 2020). Nilai reproduksi efektif yang juga menjadi indikasi tersedia atau tidaknya penularan berada di dalam skor 1, 05 (24 Oktober 2020), dibandingkan skor 1, 06 pada 12 Oktober 2020.

Untuk mempertahankan dan melayani situasi COVID-19 di DKI Jakarta, tentu perlu peran serta aktif dari seluruh masyarakat dengan disiplin menerapkan perilaku protokol kesehatan, yaitu #pakai masker, #jaga jarak, serta sering #cucitangan.

Peristiwa ini lantaran berdasarkan hasil pemantauan perilaku 3M yang dilakukan oleh Tim FKM dari UNICEF dalam DKI Jakarta, sempat terjadi kemerosotan tren kepatuhan pada perilaku memakai masker dari 75% (12 Oktober 2020) menjadi 71% (24 Oktober 2020) dan kepatuhan menjaga langkah dari 75% (12 Oktober 2020) menjadi 73% (24 Oktober 2020. Namun, terjadi perbaikan perilaku mencuci tangan dari 39% (12 Oktober 2020) menjadi 43% (24 Oktober 2020).

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)