Wednesday, December 2

Rp 92 T Dana Masyarakat ‘Dimakan Jin’, Kok Bisa Sih?

Jakarta, CNBC Indonesia – Satgas Waspada Investasi (SWI) menyebutkan investasi bodong dalam Indonesia setiap tahun kian terang terjadi, bahkan kerugian yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mencapai Rp 92 triliun. Hal ini terjadi karena kejadian yang sama terus berulang seolah tidak ada pembelajaran yang diterima sebab masyarakat dari kasus-kasus sebelumnya.

Ketua SWI Tongam L. Tobing mengatakan kendati saat itu SWI terus melakukan pencegahan & edukasi mengenai investasi ilegal, tetapi dalam waktu bersamaan pelaku investasi bodong ini juga bertambah jumlahnya.

“Kalau kita lihat kerugian investasi bodong dalam 10 tahun terakhir itu mencapai Rp 92 triliun. Awak menganggap langkah investasi bodong ini merupakan kejahatan karena bagaimanapun selalu tidak ada masyarakat yang diuntungkan dalam investasi-investasi ilegal ini, ” kata Tongam acara Capital Market Summit & Expo 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Kamis (22/10/2020).


Dia menyebut kaum kasus investasi ilegal yang kurang waktu lalu terjadi seperti Pandawa Group, MeMiles dan kasus empat travel umrah dan beberapa kejadian lainnya. Ini melibatkan jutaan target dengan kerugian yang sangat gembung. Namun sayangnya kerugian masyarakat tersebut tidak dapat dicover oleh aktiva yang disita sehingga selisih yang tak terbayar ini harus ditanggung masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikan Tongam, sejak masa 2017-2020 ini jumlah entitas investasi ilegal yang ditangani SWI tetap meningkat, dengan jumlah paling agung terjadi pada 2019.

Bahkan sejak 2018 entitas fintechpeer-to-peer lendingjuga mulai marak muncul serta jumlahnya bahkan mencapai 1. 493 entitas pada 2018 dari awalnya hanya 404 temuan pada 2018. Sedangkan tahun ini hingga September telah ditemukan 820 P2P gelap di Indonesia.

“Di samping juga ada pegadaian gelap dan juga ada fintech lending ilegal. Ini permasalahannya karena sungguh masyarakat kita butuh uang, pinjam dari bank tidak bisa sebab tidak bankable, pinjam dari perusahaan pembiayaan juga tidak bisa, menyelang dari keluarga juga ga mampu akhirnya masuk ke fintech lending ilegal, ” jelas dia.

Dia menjelaskan, kategori investasi ilegal ini sangat beragam jenisnya, seperti arisan online, periklanan tanpa izin, MLM hingga kegiatan yang berkedok koperasi. Bahkan saat itu seperti cryptocurency dan perdagangan forex ini sudah mencakup ke kesibukan ilegal yang kompleks.

Namun rata-rata menjanjikan keuntungan dengan sangat tinggi dalam waktu lekas, bahkan ada yang menggunakan bentuk seperti MLM sehingga member yang bisa menjaring member baru dijanjikan bonus tertentu.

Selain itu, kadang investasi ilegal ini menggandeng tokoh masyarakat hingga arsitek agama untuk menarik minat investasi ilegal.

Entitas dengan menawarkan investasi sejenis ini lazimnya tidak memiliki izin, atau memiliki izin kelembagaan tapi tidak memiliki izin usaha. Lainnya kadang mempunyai izin lembaga dan izin usaha namun beroperasi  tidak sesuai dengan izinnya.

[Gambas:Video CNBC]

[Gambas:Video CNBC]
(roy/roy)