Tuesday, October 20

Bengkak Baru Perang Dagang, AS Kembali Blokir Produk China

Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) balik meluncurkan serangan kepada China. Ini menambah pelik hubungan kedua negara yang telah mencapai level terendahnya setahun belakangan.

Di Senin (14/9/2020), AS mengumumkan memblokir berbagai produk China yang dibuat oleh “pekerja paksa” di daerah Xinjiang. AS meyakini produk datang dari pusat “kejuruan” yang ialah “kamp penampungan” kaum minoritas muslim Uighur.


“Pemerintah China terlibat dalam pelanggaran sistematis terhadap orang-orang Uighur serta minoritas lainnya, ” kata Mark Morgan, penjabat komisaris Badan Pelestarian Perbatasan dan Bea Cukai (CBP), dikutip dari AFP, Selasa (15/9/2020). 


“Kerja paksa adalah pelanggaran hak asasi pribadi (HAM) yang mengerikan. ”



Barang-barang yang diblokir tersebut termasuk kapas, garmen, produk rambut dan elektronik yang berasal daripada lima pabrik tertentu di provinsi Xinjiang dan Anhui.

“Selain itu, blokir juga berdampak pada semua produk yang terpaut dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Kejuruan No. 4 Kabupaten Lop di Xinjiang, ” logat Penjabat Wakil Sekretaris Keamanan Di dalam Negeri Ken Cuccinelli. 


“Ini bukan pusat keahlian, ini adalah kamp konsentrasi, wadah di mana agama dan etnis minoritas menjadi sasaran pelecehan dan dipaksa bekerja dalam kondisi keji tanpa bantuan dan kebebasan. “


“Ini adalah perbudakan modern. ”

Selain pemblokiran, AS juga mengumumkan kegiatan menahan perintah pelepasan (WRO). Siasat ini memungkinkan CBP untuk menyita produk dari perusahaan dan sistem yang masuk daftar hitam.


Langkah AS mengumumkan pemblokiran ini terjadi setelah sebelumnya negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu menjatuhkan serangkaian balasan pada China terkait masalah perkiraan penganiayaan satu juta anggota minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Sebelumnya pada bulan Juli, badan bea cukai telah memasukkan pada produk rambut dari kira-kira perusahaan yang beroperasi di Xinjiang ke daftar WRO. Pada Agustus, produk pakaian yang dibuat dan dijual oleh Hero Vast Group juga masuk daftar target.

“Pemerintah China perlu mengunci kamp konsentrasinya, ” kata Cuccinelli.

Pada bulan Juli lalu, Departemen Keuangan AS serupa telah menjatuhkan sanksi pada kawanan paramiliter utama, Korps Produksi serta Konstruksi Xinjiang karena diyakini berperan dalam pelanggaran HAM tersebut.

AS juga telah menjatuhkan sanksi pada beberapa pejabat China, termasuk Chen Quanguo, kepala Partai Komunis China untuk wilayah Xinjiang.

“Pemerintahan Trump telah memimpin dunia dalam menarik menjawab pada pelanggaran hak asasi manusia Partai Komunis China yang mengerikan di Xinjiang, dan kami telah mengambil tindakan untuk mendukung retorika kami, ” kata Menteri Sungguh Negeri Mike Pompeo dalam suatu pernyataan.

Meski telah cukup sering menjatuhkan sanksi pada China atas masalah ini, penguasa CBP mengatakan mereka saat itu sedang mempelajari “hukuman” baru yang menargetkan semua produk kapas & tomat dari Xinjiang.



[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)