Tuesday, November 24

Wall Street Cetak Rekor Lagi, IHSG Bakal Ikutan Happy?

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,02% pada perdagangan Rabu kemarin (2/9/2020) di 5.311,97. Tanda-tanda kebangkitan ekonomi AS memberikan sentimen positif ke pasar finansial global, termasuk IHSG.

Sayangnya, pelemahan tajam rupiah cukup membebani sentimen pelaku pasar, khususnya investor asing. Alhasil investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 612 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi mencapai Rp 8 triliun.

Pelemahan rupiah terjadi akibat rencana Revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI). Dalam revisi ini akan ada banyak beberapa pasal yang dihapus dan juga ditambahkan.


Salah satu yang disoroti dalam revisi tersebut adalah adanya dewan moneter yang diketuai Menteri Keuangan, yang nantinya akan ikut dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), bahkan juga memiliki hak suara dalam menentukan kebijakan BI. Hal tersebut dikhawatirkan akan menghilangkan independensi BI.

Selain itu kemungkinan program “burden sharing” pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berlanjut hingga tahun 2022 juga memukul rupiah.

Pergerakan rupiah masih akan mempengaruhi sentimen pelaku pasar hari ini, Kamis (3/9/2020), selain juga bursa saham AS (Wall Street).

Pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi waktu Indonesia), Wall Street melesat, indeks Dow Jones dan S&P 500 menguat lebih dari 1,5%, dan Nasdaq 1%. S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. 

Penguatan tajam kiblat bursa saham dunia tersebut tentunya memberikan sentimen positif ke pasar Asia pagi ini, termasuk ke IHSG. 

Secara teknikal, belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan mengingat IHSG nyaris stagnan kemarin.

IHSG kembali ke atas 5.300 sejak hari Selasa (1/8/2020), setelah indikator stochastic pada grafik 1 jam masuk ke wilayah jenuh jual (oversold). Kini Stochastic sudah mulai keluar dari wilayah oversold.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.
Artinya ketika oversold, IHSG punya peluang menguat.

Foto: Refinitiv
jkse

Resisten terdekat berada di kisaran Rp 5.330, jika mampu ditembus IHSG berpeluang menguat ke 5.380.

Sementara itu selama tertahan di bawah resisten, IHSG berisiko kembali melemah dengan target ke 5.270. Jika ditembus, IHSG berisiko melemah ke kisaran 5.200.

Support kuat berada di level 5.163 yang merupakan Fibonnaci Retracement 50% pada grafik harian. Salah satu pemicu penguatan IHSG belakangan ini saat level tersebut pada Selasa (11/8/2020) 2 pekan lalu.

Foto: Refinitiv
jkse

Fibonnaci tersebut ditarik dari level tertinggi September 2019 di 6.414 ke level terlemah tahun ini 3.911 pada grafik harian. Kala itu, Fib. Retracement 50% menjadi resisiten yang kuat, sehingga ketika ditembus secara meyakinkan akan memberikan momentum penguatan.

Jika melihat grafik harian, IHSG membentuk pola Doji.

Suatu harga dikatakan membentuk pola Doji ketika level pembukaan dan penutupan perdagangan sama atau nyaris sama persis.
Secara psikologis, pola Doji menunjukkan pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah pasar apakah akan menguat atau melemah.

Untuk jangka panjang, selama tertahan di atas level tersebut IHSG masih cenderung menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)