Thursday, September 24

Market Cap BCA Kokoh di Puncak, BRI dan Unilever Mengekor

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan lalu mengalami penguatan selama sepekan terakhir, kendati dalam satu hari, IHSG ditutup minus pada Jumat (28/8/2020).

Penguatan IHSG sepekan tersebut ternyata masih belum mempengaruhi perubahan 10 saham berkapitalisasi terbesar (big cap, emiten dengan kapitalisasi Rp 100 triliun) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Secara mingguan, pekan lalu IHSG menguat 1,40% dan ditutup di level 5.346,66. Sebenarnya IHSG sempat mencatatkan penguatan, tetapi pada perdagangan terakhir hari Jumat itu IHSG melemah 0,46%.


Pada penutupan akhir pekan lalu, investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar reguler mencapai Rp 990 miliar.

Dari dalam negeri, kabar vaksin masih menjadi sentimen positif pada pekan lalu, di mana pemerintah telah memegang beberapa kandidat vaksin yang tentunya sudah mencapai uji klinis tahap III.

Pengumuman pidato Jerome Powell, Chairman bank sentral AS, The Fed, menjadi sentimen bagi pasar modal global pekan lalu. Powell mengumumkan kebijakan inflasi yang sudah dinanti-nanti yakni kebijakan inflasi menengah, bank sentral negeri Paman Sam ini akan mengizinkan tingkat inflasi berada di atas 2%. 

Ketika inflasi berada di bawah angka 2% selama periode waktu tertentu, bank sentral akan mengintervensi dengan berbagai kebijakan moneter.

Dalam perubahan terbaru ini The Fed juga memberi sinyal dari pemikiran lamanya yakni ketatnya tingkat tenaga kerja akan memicu laju inflasi.

Sedangkan pada pekan ini, di dalam negeri dikabarkan akan menjadi pekan tersibuk karena beberapa data penting dirilis pada pekan ini sekaligus menjadi sentimenyang besar bagi pasar dalam negeri. Seperti rilis data inflasi Agustus yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 September.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia berada di median -0.01% secara month-to-month (mtm), 1,375% secara year-on-year (yoy) dan median inflasi inti berada di 2%

Data ini menggambarkan bahwa permintaan domestik masih sangat lemah. Prospek pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 menjadi suram, risiko kontraksi (pertumbuhan negatif) sepertinya membesar.

Pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia terkontraksi 5,32% YoY. Andai kuartal berikutnya minus lagi, maka Indonesia resmi masuk zona resesi.

Masih pada hari yang sama, IHS Markit akan mengumumkan data aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Agustus 2020. Pada Juli 2020, skor PMI manufaktur Indonesia ada di 46,6.

Dari global, tentunya yang paling ditunggu adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) periode Agustus 2020. Pada bulan sebelumnya, penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) adalah 1,763 juta. Pada Agustus, konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan ada penurunan menjadi 1,425 juta.

Namun tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam diperkirakan turun. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan tingkat pengangguran Agustus 2020 ada di 9,8%, bulan sebelumnya ada di 10,2%.

Mengacu data BEI, hingga akhir pekan lalu total kapitalisasi pasar saham-saham big cap mencapai Rp 2.824 triliun melemah dari posisi sebelumnya Rp 2.883 triliun.

10 Besar Emiten Big Cap per 31 Agustus 2020

Emiten

31 Agustus 2020 (Rp T)

Emiten

24 Agustus 2020 (Rp T)

Emiten

18 Agustus 2020 (Rp T)

BCA/BBCA

766

BCA/BBCA

780

BCA/BBCA

773

Bank BRI/BBRI

429

Bank BRI/BBRI

440

Bank BRI/BBRI

435

Unilever/UNVR

314

Unilever/UNVR

314

Unilever/UNVR

313

Telkom/TLKM

283

Telkom/TLKM

298

Telkom/TLKM

297

Bank Mandiri/BMRI

275

Bank Mandiri/BMRI

281

Bank Mandiri/BMRI

282

Astra/ASII

206

Astra/ASII

215

Astra/ASII

215

Sampoerna/HMSP

192

Sampoerna/HMSP

202

Sampoerna/HMSP

204

Chandra Asri/TPIA

127

Chandra Asri/TPIA

130

Chandra Asri/TPIA

131

Indofood CBP/ICBP

119

Indofood CBP/ICBP

119

Indofood CBP/ICBP

118

Sinarmas/SMMA

113

Sinarmas/SMMA

104

Sinarmas/SMMA

105

Sumber: BEI, berdasarkan data harga saham, Senin (31/8/2020)

Berdasarkan data di atas, rata-rata kapitalisasi pasar mengalami penurunan, hanya 1 emiten yang mengalami kenaikan market cap yakni PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA).

Tergerusnya kapitalisasi pasar ini disebabkan karena beberapa emiten mengalami penurunan harga saham dan volume transaksi yang diperdagangkan pekan lalu. 

Sampai saat ini, belum terjadi perubahan posisi dari pekan ini dengan pekan sebelumnya, di mana PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih kokoh di puncak klasemen dengan kapitalisasi pasar Rp 774 triliun pada penutupan perdagangan Senin (31/8), turun Rp 13 triliun.

Hanya SMMA yang mengalami kenaikan market cap sebesar Rp 9 triliun, sedangkan sisanya mengalami penurunan kapitalisasi pasar, terdiri dari tujuh saham yang kapitalisasi pasarnya turun dan dua saham yang relatif stagnan.

Kapitalisasi pasar adalah nilai pasar dari sebuah emiten, perkalian antara harga saham dengan jumlah saham beredar di pasar, semakin besar nilai market cap emiten maka pengaruh pergerakannya juga besar terhadap pergerakan IHSG.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)