Tuesday, November 24

Jadi Jawara Eropa, Bayern Munich ‘Kesiram’ Duit Rp 1 T Lebih!

Jakarta, CNBC Indonesia – Tirai kompetisi sepakbola Eropa musim 2019/2020 resmi ditutup. Musim yang panjang dan aneh karena pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) akhirnya kelar setelah sempat tertunda berbulan-bulan.

Laga pamungkas kompetisi sepakbola Benua Biru adalah final Liga Champions yang mempertemukan Bayern Munich (Jerman) dan Paris St Germain (Prancis). Sang juara Negeri Panser kemudian berhak menjadi yang terbaik di Eropa.

Sebiji gol dari sundulan Kingsley Coman hasil umpan matang Joshua Kimmich sudah cukup untuk membawa Bayern merengkuh trofi juara Eropa keenam. Menyamai prestasi Liverpool (Inggris), sang jawara musim sebelumnya. Gelar juara Eropa pertama bagi FC Hollywood sejak 2013. 


[Gambas:Twitter]

Hebatnya lagi, Bayern mengukir rekor menjadi satu-satunya tim yang selalu menang di Piala/Liga Champions. Sejak fase grup hingga final, Manuel Neuer dan sejawat tidak pernah seri apalagi kalah.

Bagi PSG, ini adalah partai final Piala/Liga Champions bagi mereka. Kegagalan Les Parisiens membuat Olympique de Marseille masih menjadi satu-satunya klub asal Negeri Anggur yang merasakan nikmatnya menjadi juara Eropa.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, perbedaan besar di partai final musim ini adalah nir penonton. Ya, Stadion Da Luz (Portugal) tempat laga terselenggara masih minus suporter karena wabah virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut.

Namun mau ada corona atau tidak, Bayern tetap adalah juara Eropa yang tidak terbantahkan. Walau kompetisi berubah (tidak ada laga tandang-kandang sejak Liga Champions dimulai pada 9 Agustus), Bayern meraih trofi Si Kuping Besar dengan adil. Dengan kemenangan di lapangan.

Bayern mengakhiri musim 2019/2020 dengan sukses besar karena meraih tiga gelar alias treble winners. Selain juara Eropa, Bayern adalah kampiun Bundesliga dan DFB Pokal. Prestasi yang kali terakhir diraih pada 2013.

Sebuah musim debut yang sangat manis (dan tidak terduga) bagi Hans-Dieter ‘Hansi’ Flick. Baru bergabung pada musim panas tahun lalu, Flick tadinya adalah asisten Niko Kovac. Serangkaian hasil buruk membuat Bayern dan Kovac sepakat ‘bercerai’ dan Flick ditunjuk sebagai manajer sementara.

Namun siapa sangka sang manajer interim ini malah bersinar. Thomas Mueller kembali bersinar, Serge Gnabry yang kariernya mati angin di Inggris menjadi bintang, Alphonso Davies muncul sebagai wonderkid baru. Jangan lupa, Robert Lewandowski menjelma sebagai penyerang paling berbahaya di Eropa.