Thursday, September 24

Cerita Ahok Soal Jokowi Kecewa 5 Tahun RI tak Bangun Kilang

Jakarta, CNBC Indonesia – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok alias BTP mengungkapkan kekecewaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pembangunan kilang di tanah air.

Hal itu diungkapkan Ahok saat menjadi salah satu pembicara dalam event “Bertemu Indonesia” yang digelar Narasi TV dan dipandu founder Narasi TV Najwa Shihab, Minggu (16/8/2020).

“Presiden sudah teriak-teriak bangun kilang, perbarui kilang. Presiden bilang lima tahun lewat gitu aja tuh, gak ada yang dibangun. Gak ada yang di-upgrade juga. Untung presiden terpilih kedua kalinya. Bisa ngegas lagi,” kata Ahok.

“Nah itu itu kenyataannya begitu sebetulnya. Fakta kita begitu. Antara ngeyel kalau dibilang nggak ngerti nggak juga kok. Pintar-pintar kok,” lanjutnya.

Saat ditanya Najwa perihal sosok yang membuat pembangunan kilang terhambat, Ahok memiliki mengaku tidak memahami.

“Pejabat-pejabat kita kan di Pertamina, di migas kan gak bodoh semua, doktor, profesor semua. Kita nggak ngerti. Yang jelas barangnya nggak jadi kan? 5 tahun Pak Jokowi kan nggak ada yang jadi,” kata Ahok.

Pembahasan terkait kilang mengemuka dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (1/7/2020).



Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, ada sejumlah kemajuan yang sudah dicapai perseroan dalam program itu, antara lain RDMP di Balikpapan, Kalimantan Timur.




“Progres kilang dipantau tiap minggu. Kita pantau betul, ada real time dashboard kita pasang cctv di lapangan,” ujar Nicke.



Setelah itu, Nicke meminta paparan dilakukan oleh CEO Refinery & Petrochemical Subholding Pertamina, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang. Ignatius mengingatkan kalau selama 30 tahun, Indonesia belum membangun kilang.



“Kami ingin mengulang kembali karakteristik bisnis oil and gas. 30 tahun kita belum bangun kilang dalam konteks menaikkan kapasitas kilang,” ujarnya.



Menurut Ignatius, prioritas pertama yang akan dilaksanakan adalah meng-upgrade kilang eksisting yang ada ditambah kilang baru yang akan dibangun di Tuban.



“Keseluruhan proyek ini 48 miliar dolar AS dan akan berlangsung 6-7 tahun ke depan,” kata Ignatius.



Menurut dia, hal itu tentu membutuhkan strategi pendanaan. Multifunding yang berasal dari mitra strategis menjadi salah satu pilihan.

[Gambas:Video CNBC]
(miq/miq)