Thursday, September 24

Kamala Harris, Gacoan Demokrat untuk Mengibuli Trump

Jakarta, CNBC Indonesia – Senator “paling bengis” dan “paling buruk. ” Serupa itu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengomentari Kamala Harris, Senator Partai Demokrat dari wilayah California. Bagaimana sepak terjang dan prinsip ekonominya?

Nama Harris muncul ke pemberitaan hari ini setelah dia sah ditunjuk Partai Demokrat untuk menjelma calon wakil presiden pendamping Joe Biden (78 tahun). Dia menjelma perempuan ketiga yang menjadi cawapres di AS, setelah Sarah Palin (2008) dan Geraldine Ferraro (1984).

Namun jika dilihat dari latar belakangnya, Harris-yang tahun ini genap berumur 55 tahun-menjadi wanita kulit hitam pertama dan warga keturunan Asia pertama yang masuk ke kedudukan pasangan pencapresan di Negara Adidaya tersebut.


Lahir dari pasangan non-kulit suci, Harris menjadi simbol mesin politik yang benar-benar anti-Trump. Ibunya, Shyamala Gopalan adalah ilmuwan asal India, sedangkan sang ayah yakni Donald Harris merupakan warga AS keturunan Jamaika.

Pernah menjabat sebagai wakil jaksa distrik di wilayah Alameda, California, Harris sempat terpilih menjadi Jaksa Agung California dua kali (2010 dan 2014). Karr politiknya dimulai pada 2016 ketika dia melompat ke Senat.

Para pemilih AS yang selama ini merasakan disudutkan oleh kebijakan Trump, yaitu warga keturunan atau pendatang pertama kaum kulit hitam akan menemui Harris sebagai simbol perjuangan kebijakan yang merepresentasikan mereka.

Demikian juga itu yang benci pada sikap seksis dan misoginis (penuh ujaran kesumat terhadap kaum Hawa) Trump. Harris menjadii sosok yang mewakili niat mereka, untuk membungkam Trump. Tahun lalu, Harris menyerang Trump secara sebutan predator seks.

I prosecuted sex predators. Trump is one.
I shut down for-profit scam colleges. He ran one.
I held big banks accountable. He’s owned by them.

I’m not just prepared to take on Trump, I’m prepared to beat him. pic. twitter. com/bg4xZ4uLne

— Kamala Harris (@KamalaHarris) November 20, 2019

Latar belakang Harris tersebut mengingatkan kita pada Barack Obama, Presiden AS yang digantikan Trump pada periode pemerintahan sebelum tersebut. Obama, yang memiliki darah Afrika dari sang ayah tercatat menjadi presiden kulit hitam pertama dalam sepanjang sejarah AS.

Seiring dengan meningkatnya dukungan terhadap nasib dan ketenteraman kaum kulit hitam di GANDAR, setelah oknum polisi Minneapolis membasmi George Floyd dengan menginjak lehernya,   pemilih dari golongan tersebut pun berpeluang menjadi kuda hitam penentu kemenangan pilpres  tahun itu.

Putaran politik Black Live Matter (BLM) yang telah menjadi aksi global itu berpeluang mendukung  Harris bersama  Biden, untuk mengalahkan Trump. Jika ini benar terjadi, maka Harris bakal menjadi warga keturunan Afrika pertama yang menjadi wakil presiden di Negara Sam.

Plus, tempat bakal menjadi perempuan pertama pada AS yang naik ke jabatan politik setinggi itu.