Thursday, September 24

Kongsi Nasional Sulit Ambil Alih Order Migas Raksasa

Jakarta, CNBC Indonesia kepala Rencana hengkangnya dua perusahaan patra dan gas (migas) global serupa Chevron Indonesia dan Shell Nusantara dari proyek strategis migas nasional tidak serta merta bisa tepat diambil alih perusahaan migas di negeri.

Pasalnya, keterbatasan dana perusahaan migas nasional menjelma kendala utama dalam mengelola rencana migas skala raksasa tersebut. Kejadian ini disampaikan Direktur Eksekutif Koalisi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal saat diwawancara CNBC Indonesia, Senin (10/08/2020).

Seperti diketahui, Chevron Indonesia dan Shell Indonesia tengah melakukan evaluasi kepemilikan saham, pengoperasian dan membongkar-bongkar investor pengganti untuk mengembangkan order strategis nasional masing-masing di Indonesia Deep Water Development (IDD) pada Kutai Basin, Kalimantan Timur, serta Blok Masela, Laut Arafuru, Maluku.


“Sangat tidak mungkin. Terus terang ini bukan rencana medium size atau small size. Ini giant project dan butuh dana miliaran dolar. Tidak banyak perusahaan migas di Indonesia yang bisa memenuhi kebutuhan investasi sejumlah itu, ” tutur Moshe.

Namun, menurutnya, bukan hal mustahil ini bisa dikelola perusahaan migas nasional. Menurutnya ini bisa diusahakan dengan membuat konsorsium sejumlah perusahaan migas nasional agar bisa turut mengelola blok migas raksasa tersebut.

“Butuh konsorsium perusahaan nasional buat ambil alih peran Chevron & Shell dalam mengelola dan memodali proyek sebesar ini, ” ungkapnya.

Namun demikian, tempat sangat menyayangkan rencana hengkangnya Shell dan Chevron dari proyek migas raksasa ini. Rencana hengkangnya ke-2 perusahaan migas global dari order migas nasional ini menurutnya tidak lain karena kurang kompetitifnya kecendekiaan fiskal dan regulasi di negara ini dibandingkan di negara lainnya. Akibatnya, perusahaan global tersebut tentu akan memilih portofolio yang lebih menguntungkan bagi perusahaan.

“Pemerintah harus sadar akan itu. Melihat situasi kondisi akan mengibaratkan negara kita dengan negara lain, dar sisi fiskalnya, regulasi, lantaran sisi iklim investasinya. Jadi dengan dilihat investor adalah satu, keekonomiannya, dan penting juga bagaimana stabilitas fiskalnya, stabilitas politik, dan sebagainya, ” ujarnya.

Biar kini industri hulu migas selalu tengah melesu terutama karena turunnya harga minyak dan turunnya permintaan akibat pandemi Covid-19, namun tempat mengatakan krisis di industri migas beberapa tahun sebelum ini selalu pernah beberapa kali terjadi yaitu pada 2008 dan 2014. Walaupun memang, dia mengakui, kondisi saat ini adalah yang paling mengandung karena dipicu beberapa faktor, tak hanya harga.

Melihat kondisi ini menurutnya pemerintah mestinya harus bisa responsif dengan memberikan dorongan untuk membantu Kontraktor Kontrak Kegiatan Sama (KKKS) besar tetap menggembala investasinya di Indonesia.

Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Migas Ego Syahrial mengatakan perkembangan rencana gas Abadi, Blok Masela zaman ini sedang proses pembukaan data (open data) di mana sudah ada 32 calon yang berminat untuk mengetahui potensi Blok Masela dan menggantikan Shell di Kelompok Masela.

“Lagi cara open data, ada 32 bahan yang sedang dalam proses peduli data. Tentunya pemerintah kita cari yang kompeten ya terbaik aja, ” kata Ego di Jawatan Kementerian ESDM, Rabu (05/08/2020).

Ego menyebut perusahaan dengan akan masuk dipastikan adalah kongsi besar. Namun sayangnya ia tidak mau menyebut apakah perusahaan itu dari dalam atau luar jati.

“Kita tidak tahu apakah (perusahaan) dalam dan luar negeri, cuma kalau kita bicara 32, mengertilah. Artinya, kalau pula ada yang dalam negeri kira-kira berapa biji. Siapa yang besar-besar, seperti Pertamina, Medco, ” jelasnya.

Kemudian, untuk proyek IDD, ia membicarakan sudah sangat jelas bahwa saat Chevron Pacific Indonesia (CPI) mengalihkan Blok Rokan ke Pertamina di 2021 mendatang, maka mereka juga akan melepaskan proyek IDD.

“IDD sudah jelas lah, Chevron kan satu paket dengan Rokan. Kira-kira gitu jawabannya. Kalau dia sudah ini (alih kelola Blok Rokan), artinya dia bareng (melepas IDD bersamaan dengan pengalihan) Rokan, ” katanya.

Ego menyebut Chevron menawarkan rencana ini ke kontraktor migas manusia besar asal Italia yakni Eni. “Ya tidak tahu, pokoknya mereka saling menawarkan diri, yang saya terang Chevron tawarkan diri. Kita nanti saja, ” katanya.  

[Gambas:Video CNBC]