Thursday, September 24

Pengangguran AS Turun, Awas Emas Mampu “Jatuh Dari Langit”

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Harga emas dunia bergerak berangasan memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Jumat (7/8/2020), setelah rilis data tenaga kerja Negeri Om Sam. Data tenaga kerja merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi AS, sehingga memberikan dampak yang signifikan pada harga emas.

Melansir data Refinitiv, setelah data tenaga kerja AS dirilis pukul 19: 30 WIB berarakan, harga emas langsung merosot 0, 89% ke US$ 2. 044, 91/troy ons, tetapi setelahnya tepat rebound tajam kembali ke kawasan hijau, sebelum akhirnya melemah sedang 0, 58% di US$ dua, 048, 91/troy ons pada jam 20: 33 WIB.

Departemen Tenaga Kerja AS keadaan ini melaporkan tingkat pengangguran di bulan Juli turun tajam menjadi 10, 2% dari sebelumnya 11, 1%. Selain itu, sepanjang kamar lalu, perekonomian AS kembali menggunakan tenaga kerja di luar daerah pertanian, yang dikenal dengan istilah non-farm payrolls , sebanyak 1, 763 juta karakter, lebih banyak ketimbang prediksi di Forex Factory sebesar 1, 53 juta.


Data-data itu menunjukkan perekonomian AS mulai bangun setelah nyungsep hingga mengalami  resesi di kuartal II-2020 lalu.

Tidak hanya tersebut, rata-rata gaji per jam juga mengalami kenaikan 0, 2% dalam bulan Juli setelah menurun di 2 bulan beruntun. Kembali naiknya rata-rata gaji berpeluang meningkatkan bayaran konsumen atau belanja rumah nikah yang merupakan tulang punggung perekonomian AS. Belanja rumah tangga berkontribusi sekitar 70% terhadap produk domestic bruto (PDB) AS.

Membaiknya pasar tenaga kerja mewujudkan harapan perekonomian AS akan bahar bangkit, saat itu terjadi semua faktor pendukung harga emas kepala per satu akan hilang, & logam mulai ini berisiko “jatuh dari langit” alias merosot dibanding rekor tertinggi kekal US$ 2. 072, 49/troy ons.

Dolar AS misalnya, dalam kira-kira pekan terakhir terus merosot hingga menyentuh level terendah lebih lantaran 2 tahun kemarin. Akibatnya kemerosotan tersebut  emas akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa berkali-kali.

Penyebab anjloknya the greenback adalah AS yang diprediksi tertinggal di pemulihan ekonomi dibandingkan dengan negeri2 lainnya. Ketika ekonomi AS bangun, prediksi tersebut akan dipatahkan dan dolar AS bangkit kembali. Terbukti pada indeks dolar hari itu melesat 0, 72% ke 93, 457.

“Bahan bakar” emas lainnya yakni resesi, terang ketika ekonomi AS bangkit, tentunya peluang keluar dari resesi semakin cepat. Satu lagi “bahan bakar” emas akan hilang.

Terakhir kebijakan suku bunga nista dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), yang merupakan “bensin” utama emas melesat naik. Memang kebijakan ini akan dipertahankan di dalam waktu yang cukup lama datang ekonomi AS benar-benar pulih.

Kebijakan The Fed zaman ini sama dengan saat genting finansial global 2008 yang selalu membawa emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebelumnya US$ 1. 920, 3/troy ons pada September 2011.

Berkaca sejak pergerakan emas saat itu, dalam pertengahan tahun 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke mengeluarkan wacana untuk menekan QE. Baru sebatas wacana sekadar harga emas langsung merosot garang.

The Fed pada akhirnya mengurangi QE mulai Januari 2014, emas pun makin merosot hingga akhirnya menyentuh level US$ 1. 045, 85/troy ons dalam Desember 2015. Hanya dalam waktu 3 tahun harga emas runtuh dari US$ 1. 920, 3/troy ons ke US$ 1. 045, 85/troy ons.

Tahu pergerakan tersebut, patut diwaspadai kemerosotan harga emas, meski sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

TIM RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)