Thursday, September 24

Di Tengah Pandemi, Muncul Sentimen Positif Buat Pasar Modal

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar modal Indonesia sempat menyentuh titik terendah pada Maret 2020 akibat merebaknya Covid-19, masih bergerak volatil hingga hari ini yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen. Meski demikian pasar modal Indonesia mulai mendapatkan sentimen positif, seperti yang terjadi di negara lain.

Dewan Komisioner Otoritas Service Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan penguatan pasar modal didorong dengan investor domestik ritel net buy mencapai Rp 1, 5 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 5, 06 triliun. Meski dia mengakui IHSG sempat turun ke level 5. 006 karena adanya rilis data deflasi, dan angka PDB Indonesia pada kuartal II-2020 hal ini membikin investor masih wait and observe.

“Sampai 28 Juli penghimpunan dana di pasar modal sebesar Rp 54, 1 triliun, dengan 28 emiten baru. Kami sadar ada penurunan, dan tumpuan kami setelah ekonomi tumbuh otomatis perusahaan lebih banyak penghimpunan dana di pasar modal, ” kata Wimboh dalam konferensi pers Perkembangan Kebijakan Kondisi Terkini Sektor Jasa Keuangan, Selasa (4/8/2020).


OJK mencatat ada penurunan minat penghimpunan dana melalui penawaran umum, baik secara jumlah maupun nilai. Pada Juli 2019, total penawaran umum sebanyak 94 dengan nilai Rp 109, 18 triliun, sementara pada Juli 2020 jumlah penawaran umum sebanyak 73 dengan nilai Rp 54, 13 triliun.

Per 28 Juli 2020 OJK mencatat dana yang dihimpun melalui 28 perusahaan yang BÖRSEGANG (ÖSTERR.) senilai Rp 3, 28 triliun, Penawaran Umum Terbatas senilai Rp 9, 52 triliun, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) EBUS Tahap I senilai Rp 12, 79 triliun, dan PUB EPUB EBUS Tahap II senilai Rp 28, 85 triliun.

“Di pasar modal tentunya maka akan banyak emiten baru, dan sampai saat ini beberapa emiten pada pipeline. Tapi dengan pertumbuhan positif akan mempercepat realisasi emiten baru di pasar modal, ” kata Wimboh.

OJK juga mencatat nilai penawaran umum terbesar dilakukan oleh sektor keuangan sebesar 52, 86%. Kemudian infrastruktur, electricity, dan transportasi sebesar 19, 05%, dan pertambangan sebesar 10, 03%, kemudian industri dasar dan kimia 5, 56%. Sementara penggunaan dana penawaran umum sebagian besar dipakai untuk modal kerja sebesar fifty five, 85%, pembayaran utang 21, 62%, dan ekspansi 14, 25%, sisanya untuk biaya emisi berdasarkan prospektus, penyertaan, dan akuisisi.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)