Tuesday, August 4

Krisis di Mana-Mana, Chevron Merugi Rp 121 Triliun

Jakarta, CNBC Indonesia porakporanda Perusahaan energi Chevron melaporkan kerugian bersih senilai US$ 8, 3 miliar (Rp 121, 18 triliun, asumsi kurs Rp 14. 600/US$) untuk periode yang berakhir Juni 2020. Kerugian ini disebabkan karena turunnya harga minyak, keluar menekan dari Venezuela dan biaya lainnya yang berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya.

Dilaporkan Reuters, pendapatan perusahaan pula mengalami penurunan hingga 32, 9% year on year (YoY). Ini merupakan penurunan pendapatan terdalam di aktivitas ekonomi dalam era modern.

Produksi minyak serta gas tercatat senilai US$ 5, 6 miliar, termasuk untuk investasinya di Venezuela yang tengah dilanda krisis saat ini. “Diperlukan bertahun-tahun untuk pulih dan harga keluaran kami berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi, ” kata Pierre Breber, direktur keuangan Chevron dalam sebuah wawancara, dilansir dari Reuters, Jumat (31/7/2020).


Dia mengucapkan saat ini perusahaan masih membekukan diri untuk berinvestasi di order baru. Output perusahaan sepanjang April-Juni mengalami penurunan hingga 189 ribu barel minyak dan gas bola lampu hari dibanding dengan tahun lulus.

Kesialan ini sebagian besar disebabkan karena adanya penurunan (writedown) produksi patra dan gas di Venezuela senilai US$ 6, 5 miliar (Rp 81, 76 triliun) karena kritis di Venezuela. Pemerintah Amerika sudah meminta Chevron untuk menghentikan bisnisnya di negara ini.

Selain itu kerugian juga dikarenakan karena pembayaran pesangon senilai US$ 1 miliar Rp 14, enam triliun) kepada 6. 700 sebab 45 ribu karyawannya yang langsung PHK akibat ada restrukturisasi secara global.

Arus simpanan Chevron juga menjadi negatif US$ 634 juta pada kuartal ini. Kondisi ini oleh analis diperkirakan akan berdampak pada harga bagian perusahaan.

Penurunan produksi energi ini membuktikan menghancurkan permintaan bahan bakar dan menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan di dunia. Selain itu juga menggambarkan bahwa penurunan ekonomi yang pada sehingga berdampak pada harga energi.

Produsen minyak serta gas lainnya, seperti Total, Serba banyak Dutch Shell dan Eni selalu mengalami penurunan aset. Sedangkan BP mengalami penurunan hingga US$ 17, 5 miliar.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)