Wednesday, December 2

Ternyata Masih Ada Perusahaan Migas Mujur Saat Harga Jatuh

Jakarta, CNBC Indonesia – Industri hulu migas tak bisa lepas dari dampak pandemi corona (Covid-19) yang telah menetar semua sektor. Mantan Wakil Gajah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjelaskan mengenai skenario industri migas agar siap menghadapi semua kondisi.

Ia menjelaskan di dalam dunia energi khususnya migas bakal selalu menghadapi potensi up and down. Menurutnya tidak ada dalam sejarah bahwa industri migas selalu berada di atas. Zaman berada di kondisi bawah seolah-olah sekarang ini biasanya perusahaan minyak besar dan bagus sudah menyiapkan skenario.

“Antisipasi posisi. Ini extraordinary? Setuju. Apakah tidak dipersiapkan saya rasa nggak serupa. Mereka nggak tahu persis era turun dan naik, ada perusahaan yang siap dengan mitigasi dan tidak siap, ” jelas Arcandra dalam diskusi Rabu petang, (29/07/2020).


Secara teori kongsi minyak yang bagus pada saat harga minyak naik maka zona hulu akan memberikan kontribusi besar di perusahaan. Namun pada zaman harga minyak turun maka sektor hilir yang memberikan kontribusi luhur. Bagi perusahaan besar mestinya dibanding sisi dua sektor ini sebanding.

“Ini akan tetap terjadi up dan down. Bagaimana perusahaan menyiapkan migitasi perubahan kehormatan minyak di puncak maupun di bawah. Nggak juga (selalu perusahaan besar) ada perusahaan menengah yang disebut dengan independent oil company mereka juga punya investasi selain di hulu juga siap-siap pada hilir, ” jelasnya.

Lalu jika kongsi minyak sudah punya skenario, apakah insentif masih diperlukan?

Soal hal ini Arcandra menyampaikan ilustrasi jika orang sedang dalam keadaan susah apakah tidak bisa meminta tolong? Terkadang skenario terburuk dari perusahan minyak adalah era harga minyak berada di posisi US$ 40 atau US$ 45 per barel, namun ternyata kenyataannya ada di posisi US$ 30 per barel.

“Di luar ekspektasi, siapa yang mampu prediksi down sampai US$ 30an, ada nggak prediksi harga US$ 40an. Bagi company yang tidak siap dengan harga di bawah perkiraan mereka minta bantuan, ” ucapnya.

Misalnya selalu dengan aset deep water dalam harga US$ 50 per barel masih bisa bertahan, lalu di bawah US$ 40 per barel mereka sudah kelimpungan. “Ada company di darat dengan harga US$ 30an pun masih make money, ” jelasnya.

Arcandra menyebut tidak ada satupun negara dan kelompok negara yang siap mengontrol harga migas, oleh sebab itu satu-satunya langkah yang mampu diambil adalah dengan efisiensi. Keefisienan ini bisa didapatkan dengan perubahan dari sisi teknologi, sistem serta sumber daya manusia.

“Price migas tak bisa dikontrol, efisiensi bisa. Di cari-cari lah itu di pada setiap lini, apakah manusia yang natural hasilkan 10, di masa pandemi hasilkan 11, jangan sampai masa pandemi ini hanya 7-8, setelah melakukan adaptasi dan adopsi dari sisi manusia, dari produktivitas naik kembali, ” tuturnya.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)