Friday, September 25

Perdata, 4 Wilayah di RI Gawat Kekeringan Ekstrem

Jakarta, CNBC  Indonesia- BMKG  menyatakan empat kabupaten di daerah Nusa Tenggara berstatus awas atau kode merah kekeringan meteorologis.

Keempat kabupaten itu yaitu tiga kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB.

Status awas tersebut tertuang dalam Surat Peringatan Pra Kekeringan Meteorologis yang dikeluarkan Utusan Klimatologi BMKG pada 24 Juli 2020.


“Tiga kabupaten/kota di NTT yaitu Kota Ketepeng, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Sedang Selatan dan satu kabupaten di NTT yaitu Kabupaten Dompu, ” dikutip dari keterangan tertulis BMKG, seperti dikutip dari CNNIndonesia. com Minggu (26/7).

BMKG juga menetapkan 58 kabupaten/kota yang berstatus siaga atau kode oranye yang tersebar di NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Sedang, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

BMKG menyatakan bahwa saat ini 69% daerah telah memasuki musim kemarau berbarengan sirkulasi angin monsun Australia dengan dominan dan bersifat kering dari arah timur-tenggara. Wilayah yang mengikuti musim kemarau ini tersebar di sejumlah daerah.

Sebanyak 3i% diantaranya telah mengalami perihal kering secara meteorologis dihitung bersandarkan indikator Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut atau deret hari kering yang bervariasi mulai dari 21-30 hari, 31-60 hari, dan pada atas 61 hari.

Wilayah yang sudah mengalami derek hari kering lebih dari 30 hari yakni Bali (Bangli, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Denpasar), Yogyakarta, Jateng (Karanganyar, Kebumen, Klaten, Purworejo, Sukoharjo, Wonogiri), Jatim (Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Gresik, Jember, Kota Surabaya, Lamongan, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Terhenti, Sidoarjo, Situbondo), NTB, NTT, & Kepulauan Selayar-Sulsel.

Meski sejumlah wilayah di selatan Indonesia mengalami musim besar, BMKG meminta masyarakat yang tinggal di daerah ekuator mewaspadai potensi curah hujan yang berisiko banjir.

“Daerah yang tak atau belum mengalami musim perut, terutama dekat ekuator, perlu perdata potensi curah hujan tinggi had sangat tinggi yang berisiko banjir, ” katanya.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)