Tuesday, August 4

Kacau Kandidat Vaksin Corona Masuk ke RI, Siapa Dapat Duluan?

Jakarta, CNBC Indonesia –  Kabar soal vaksin langsung berseliweran akhir-akhir ini.   Aksen harapan, optimisme dan kegembiraan terpampang jelas di headline news bervariasi media baik dalam maupun sungguh negeri.  

Pengikut vaksin untuk virus corona macam baru (SARS-CoV-2) terus bertambah. Pada 15 Juli 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 23 kandidat vaksin yang sedang diuji klinis ke manusia.

Jumlah kandidat yang berada dalam fase awal juga terus beranjak. Pada pekan lalu kandidat vaksin yang berada di tahap preliminary telah mencapai 140.


Dalam antara sekian banyak kandidat, mRNA-1273 milik Moderna, AZD1222 produksi AstraZeneca dan kandidat lain yang buatan oleh perusahaan farmasi China yakni  Sinovac merupakan yang paling diunggulkan.

Untuk kandidat vaksin yang diproduksi sebab Sinovac, kini sudah masuk ke uji klinis tahap akhir yakni tahap III. RI ternyata terlibat dalam pengembangan kandidat vaksin tersebut.

Kabar yang lebih menggembirakan lagi adalah, kandidat vaksin ini sudah sampai di Desa Air untuk dilakukan uji klinis. Informasi ini dibenarkan oleh Pekerja Khusus Menteri BUMN Arya  Sinulingga.  

Lantas, bila vaksin benar-benar teruji ampuh dan siap produksi, siapa saja yang akan mendapat vaksin terlebih awal? Apakah setiap negara akan kebagian vaksinnya? Jika iya bagaimana pembagiannya?

Komite penasihat CDC  untuk imunisasi (ACIP),   merekomendasikan untuk mengikuti skema vaksin influenza yang pernah dikembangkan di GANDAR.   Jika mengacu pada rancangan ini maka lapisan masyarakat yang  diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin merupakan mereka yang bekerja di sektor kesehatan kemudian dilanjutkan bagi mereka yang memiliki risiko kesehatan yang tinggi.

WHO di dalam 18 Juni mulai menguraikan “alokasi strategis” rancangannya. WHO akan memberikan prioritas kepada hampir 2 miliar orang, yang termasuk ke dalam pekerja di sektor kesehatan,   lansia dari 65 athun ataupun di bawah 30 jika mereka berisiko lebih tinggi terinfeksi Covid-19 karena mereka memiliki komorbiditas sesuai penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, obesitas, atau penyakit pernapasan kronis.

Selanjutnya untuk menjelaskan perkara kedua terkait apakah semua negeri bakal mendapatkan vaksin,   GAVI  (aliansi vaksin global) terus mencari jalan agar vaksin  Covid-19 menjadi barang milik publik melalui program yang dinamakan COVAX  Facility.

Hingga 15 Juli 2020, sudah ada 75 negara yang gandrung untuk bergabung dengan COVAX  Facility. Tujuh puluh lima negara tersebut akan membantu mendanai pengembangan vaksin dan bekerja sama dengan 90 negara berpenghasilan rendah lain dengan didukung oleh GAVI.  

Tujuan COVAX adalah buat menghasilkan dua miliar dosis vaksin yang aman dan efektif dengan telah melewati persetujuan otoritas kesehatan. Vaksin-vaksin ini akan dikirimkan dengan merata ke semua negara yang berpartisipasi, sebanding dengan populasi itu, dengan  prioritas terhadap petugas layanan kesehatan kemudian berkembang hingga mencakup 20% dari populasi negara yang berpartisipasi.

Dosis bertambah lanjut akan  disediakan berdasarkan kebutuhan negara, kerentanan dan ancaman Covid-19.   COVAX juga akan menyediakan dosis cadangan/penyangga untuk penggunaan perlu, termasuk menangani wabah tak terarah.

“Pandemi Covid-19, kaya setiap krisis kesehatan, juga meluluskan kita peluang, ” kata Dr. Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan WHO.

“Vaksin yang terjangkau dan dapat diakses oleh semua orang akan membantu kita menyalahi ketimpangan kesehatan sistemik. Kami membutuhkan semua negara untuk mendukung COVAX untuk mencapai tujuan ini & mengakhiri fase akut pandemi itu. ” tambahnya.

Keberhasilan upaya ini pada akhirnya hendak sangat bergantung pada  jumlah sedekah yang  digelontorkan  oleh pemerintah negeri anggota  serta komitmen dari pembuat vaksin untuk  untuk menyediakan vaksin dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

Melalui COVAX,   negara-negara yang mendanai vaksin melalaikan anggaran domestik diharuskan untuk menganjurkan pembayaran dimuka dan berkomitmen buat membeli dosis pada akhir Agustus.

Kemajuan yang istimewa telah dicapai oleh beberapa pacar COVAX hingga saat ini.   Ada tujuh dari sembilan pengikut vaksin yang didukung oleh CEPI sudah dalam uji klinis. Nota kesepahaman dengan AstraZeneca juga berkomitmen untuk memasok 300 juta dosis vaksin COVID-19 ke COVAX.

Selain itu, pada kamar Juni lalu  GAVI meluncurkan COVAX Advance Market Commitment (AMC), suatu instrumen pembiayaan yang bertujuan memerosokkan produsen vaksin untuk memproduksi vaksin Covid-19  dalam jumlah cukup untuk memastikan akses ke negara-negara tumbuh.

AMC telah menggabungkan hampir US$ 600 juta dibanding target awal US$ 2 miliar dari donor berpenghasilan tinggi dan sektor swasta. Aliansi GAVI selalu akan bekerja dengan negara-negara tumbuh untuk memastikan kesiapan pasokan dan rantai dingin serta pelatihan untuk menjangkau kelompok berisiko tinggi.

Di Indonesia sendiri ada tiga kerja sama pengembangan vaksin. Kerja sama pertama antara kongsi farmasi pelat merah PT Bio Farma dengan perusahaan farmasi China, Sinovac. Kemudian ada juga PT Kalbe  Farma  Tbk  yang tergabung dalam konsorsium Genexine dan dengan terakhir adalah konsorsium lokal yang dipimpin oleh lembaga molekuler Eijkman.  

Jika benar tidak ada kendala yang bermanfaat dalam uji klinis saat itu, maka vaksin baru akan ada paling cepat tahun depan secara potensi total mencapai 2 miliar dosis. Jika mengacu pada perhitungan WHO maka dibutuhkan setidaknya 4, 2 miliar dosis vaksin buat kurang lebih dua miliar orang dengan asumsi satu orang dua dosis.

Di Indonesia sendiri kebutuhan akan vaksin Covid-19 mencapai 340 juta dosis. Situasi ini disampaikan langsung oleh Gajah Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga  Hartarto  pada 9 Juni lalu.

“Kebutuhan vaksin Covid-19 jikalau ada 170 juta masyarakat butuh minimal dua kali shot [suntikan], maka butuh 340 juta vaksin. Oleh karena itu BUMN bekerja sama dengan beberapa kongsi Korea, ” kata Airlangga melalaikan video conference, Selasa (9/6/2020) suangi.

Saksikan video terkait di lembah ini:

(twg/roy)