Thursday, October 22

Tahu Sentuh 14. 600/US$, Rupiah Tanda Uang Terburuk di Asia

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Nilai tukar rupiah menyurut tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/7/2020), bahkan sempat menyentuh Rp 14. 600/US$. Risiko memanasnya hubungan AS-China membuat sentimen pelaku pasar memburuk, tetapi penekan utama rupiah ialah Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan kebijakan moneter Kamis kelak.

Rupiah membuka perniagaan dengan stagnan di Rp 14. 375/US$, tetapi tidak lama tepat masuk ke zona merah. Depresiasi semakin membengkak hingga 1, 57% ke Rp 14. 600/US$ dengan menjadi level terlemah intraday . Untuk pertama kalinya rupiah menyentuh level Rp 14. 600/US$ sejak 29 Mei berantakan.

Di akhir perniagaan, rupiah berada di level Rp 14. 575/US$, melemah 1, 39% di pasar spot , melansir data Refinitiv.


BI besok diprediksi mau menurunkan suku bunga acuan tujuh Day Reverse Repo Rate. Buatan survei Reuters menunjukkan 14 sejak 26 ekonom memprediksi BI mau memangkas suku bunga 25 dasar poin (bps) menjadi 4%.

Penurunan suku bunga dapat membantu perekonomian bergerak lebih cepat dan segera bangkit dari kemerosotan akibat pandemi keburukan virus corona (Covid-19). Sehingga masa BI memangkas suku bunga, rupiah cenderung menguat.

Tetapi kali ini tidak seperti lazimnya, peluang pemangkasan suku bunga sebab BI direspon negatif oleh pasar. Sebabnya, saat suku bunga dipangkas, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tentunya juga akan menurun. Sehingga daya tarik investasi menjadi menurun, aliran modal ke dalam negeri berisiko seret, rupiah pun kehabisan “bensin”.

Akibatnya, rupiah menjadi mata kekayaan terburuk dibandingkan mata uang istimewa Asia lainnya. Tidak hanya dengan terburuk, rupiah juga melemah seorang diri di Asia.

Beserta pergerakan dolar AS melawan lengah uang utama Benua Kuning mematok pukul 15: 10 WIB.

Sementara itu risiko memanasnya hubungan AS-China terjadi setelah Presiden AS Donald Trump, pada Selasa waktu setempat (dini hari tadi waktu Indonesia) menandatangani undang-undang yang memberikan sanksi ke China karena melakukan intervensi independensi Hong Kong.

Trump juga menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) yang menghentikan perlakukan khusus dengan selama ini diterima Hong Kong.

“Hong Kong kini akan diperlakukan sama seperti China. Tidak ada keistimewaan, tidak ada perlakukan ekonomi khusus, dan tidak ada transfer teknologi. Sebagai tambahan, seperti yang ada tahu, kita akan mengenakan bea importasi (ke Hong Kong) dan sudah memakai bea importasi yang besar ke China” kata Trump, sebagaimana dilansir CNBC International .

Memanasnya hubungan AS-China adalah kabar buruk di pusat situasi ekonomi yang sangat buruk akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).
Sebelumnya Presiden Trump juga mengatakan saat ini dia tidak berfokus pada peluang terjadinya kesepakatan dagang fase II secara China. Trump menambahkan hubungan dengan China sudah “sangat rusak” akibat pandemi Covid-19.