Thursday, October 22

Malaysia Panas, Pemerintahan PM Muhyiddin Masih ‘Terancam’?

Jakarta, CNBC Indonesia – Perpolitikan Malaysia kembali memanas. Kekacauan hidup di Parlemen  Malaysia, Senin (13/7/2020) sebagaimana ditulis Reuters.

Ini terjadi lantaran Perdana Menteri Tan Sri Muhyiddin Yassin mengajukan mosi untuk mencopot Pemimpin Kongres Malaysia, Mohamad Ariff Md Yusof. Menurutnya sudah ada kandidat pertama untuk posisi tersebut.

Upaya Muhyiddin untuk menghapus Mohamad Ariff Md Yusof, didukung sebab 111 anggota parlemen. Meski serupa itu ada 109 anggota parlemen menentangnya.

Sebelumnya Mohamad Ariff Md Yusof bekerja di kolong pemerintahan Mahathir Mohamad. Sebelumnya pengunduran diri Mahathir menyebabkan pergolakan politik dan membuat situasi sulit bagi investor di Malaysia.


Pemungutan suara ini bersifat tidak resmi. Karena adalah pemungutan suara uji coba. Biar demikian ditulis Bloomberg , ini menunjukkan bahwa pertolongan parlemen pada Muhyiddin masih sangat lemah, karena rentang suara dengan tak begitu besar antara pembantu dan oposisinya.

“Mengganti pemimpin parlemen sangat penting karena ia yang memutuskan apakah suara tidak percaya atau mampu dilanjutkan, ” kata James Chin, Direktur Asia Institute di University of Tasmania di Australia.

“Pemungutan suara juga mengkonfirmasi apa yang sudah kita ketahui, bahwa ke-2 belah pihak (Muhyiddin dan oposisinya) sangat dekat dalam hal jumlah. Dan, bahwa pemerintahan Muhyiddin tak stabil. ”

Sebagai ekonomi terbesar ke-3 di Asia Tenggara, Malaysia saat ini tengah bergulat dengan ketidakpastian politik sejak Muhyiddin yang merupakan bagian dari pemerintahan Mahathir, menjabat sebagai PM pada bulan Maret lalu.

Muhyiddin dikabarkan menyusun aliansi dengan partai UMNO yang penuh dengan korupsi dalam penetapan 2018. Pihak oposisi menuduhnya merebut kekuasaan dengan menggeser aliansi bukannya memperolehnya dari penghitungan kotak perkataan.

Patuh laporan surat kabar Singapura Straits Times pada Juni lalu mengatakan Muhyiddin, di tengah pertanyaan atas pengaruh legislatifnya, kini sedang mempersiapkan pemilihan cepat pada akhir tahun buat mencari mandat yang kuat.

Sebelumnya, Mahathir juga mengajukan mosi pada kepemimpinan Muhyiddin. Tetapi ia menghindari hal tersebut pada sidang parlemen terakhir pada bulan Mei lalu.

Pihak oposisi yang ditempati oleh Mahathir dan Anwar Ibrahim bersumpah untuk menggulingkan kepemimpinan Muhyiddin. Diketahui jika di bawah konstitusi federal, seorang PM yang telah kehilangan kepercayaan parlemen harus membubarkan kabinetnya, melainkan diminta sebaliknya oleh raja.

Saksikan video terkait di bawah tersebut:

(sef/sef)