Thursday, October 22

Bangkit 2 Hari Beruntun, Rupiah Kesimpulannya Juara Asia Lagi

Jakrta, CNBC Indonesia –  Nilai tukar rupiah kembali bangkit melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2020), melanjutkan penguatan tipis awal pekan itu. Kali ini, penguatan rupiah agak besar, sekaligus membawanya menjadi jempolan Asia. Sentimen dari dalam daerah menjadi penopang penguatan Mata Kekayaan Garuda hari ini.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung menguat 0, 28% ke Rp 14. 400/US$. Setelahnya apresiasi terus berlanjut hingga menyentuh 0, 71% di Rp 14. 338/US$. Tetapi sayangnya, penguatan tersebut terpangkas, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp 14. 400/US$ pada hari ini.

Pengukuhan tersebut cukup membawa rupiah menjelma mata uang terbaik di Asia. Sudah cukup lama status itu lepas dari rupiah. Kemarin, rupiah hanya mampu menguat tipis 0, 07%, penguatan tersebut sekaligus memotong rentetan pelemahan 7 hari bersambung.


Mayoritas mata uang utama Asia berada di kawasan merah pada hari ini, selain rupiah hanya ringgit Malaysia dengan menguat.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15: 08 WIB.

Rupiah mendapat tenaga untuk menguat setelah kecemasan akan kemajuan inflasi di Indonesia mereda.

Sepanjang pekan lalu, rupiah tertekan akibat adanya ekspektasi inflasi akan meningkat, yang menyebabkan real return berinvestasi di Indonesia menjadi menyusut.

Hal ini berlaku setelah Bank Indonesia (BI) dalam hari Senin pekan lalu akur ” burden sharing ” dengan pemerintah dalam rancangan memerangi pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Pemerintah sebelumnya mengajukan ” burden sharing ” dimana BI akan membeli obligasi pemerintah tanpa kembang alias zero coupon untuk keperluan public goods senilai 397, 56 triliun. Kemudian ada lagi untuk non-public goods , BI bakal menyerap obligasi pemerintah dengan yield sebesar suku bunga 7 Day Reserve Repo Rate dikurangi 1%.

Ada kecemasan di rekan jika, rencana ” burden sharing ” tersebut alhasil terealisasi, inflasi di Indonesia bakal mengalami kenaikan akibat semakin banyaknya jumlah uang yang beredar.

Ahli desain mata uang di DailyFX, Margaret Yang, sebagaimana dikutip Reuters mengatakan zaman bank sentral di negara berkembang membeli obligasi pemerintahnya dengan serampangan uang sendiri, maka akan menciptakan inflasi.

“Bank Pokok AS (The Fed) melakukan kejadian yang serupa, tetapi situasinya berbeda karena dolar AS adalah mata kekayaan dunia, jadi uang tidak cuma beredar di Amerika Serikat, namun juga keseluruh dunia, ” katanya.

Belum lagi BI diprediksi akan kembali memangkas suku bunga acuannya, sehingga yield yang dihasilkan dari berinvestasi di pasar obligasi misalnya akan lebih rendah lagi.

Saat mengumumkan pemangkasan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 4, 25% rata-rata Juni lalu, BI memang membuka peluang akan kembali memangkas 7 Day Reserve Repo Rate tersebut.

Akibatnya, real return yang dihasilkan dengan berinvestasi di Indonesia menjadi lebih semakin rendah, sehingga menjelma kurang menarik di tengah pandemi Covid-19 yang memberikan ketidakpastian ekonomi secara global.

Namun kemarin sore, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur BI Perry Warjiyo mengadakan konferensi bola lampu bersama. Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani menjelaskan untuk skema public goods yang sebesar Rp 397, 6 triliun ini nantinya negeri menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) yang dijual langsung ke BI melalui skema private placement dengan bunga 0% atau ditanggung 100% oleh BI.

“Beban bunga bagi pemerintah untuk SBN khusus yang diterbitkan dengan private placement , untuk pemerintah 0%, untuk BI sejumlah reverse repo ratenya atau ditanggung 100%, ” kata dia.

Gubernur Perry mengatakan dampak inflasi yang ditimbulkan dari kecendekiaan tersebut tidak besar.

Perry Warjiyo juga menambahkan secara kebijakan ini, pihaknya akan tentu menjaga dari kesehatan sisi moneter seperti inflasi dan nilai tukar rupiah. Selain itu, SBN yang dibeli dari pemerintah bisa dijual kembali untuk BI bisa melaksanakan operasi moneternya.

Akhirnya, kecemasan akan penurunan real return berinvestasi di Indonesia mulai mereda, dan rupiah kembali perkasa.