Thursday, October 22

Kadar Tiga Pilar Ditentukan Pekan Tersebut, Akankah Didepak Bursa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pekan ini Bursa Hasil Indonesia (BEI) bakal menentukan kadar PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) sebagai perusahaan dengan sahamnya tercatat di bursa. Pasalnya pada 5 Juli 2020 kelak sudah genap 24 bulan saham AISA dihentikan perdagangannya alias suspensi.

Direktur Penilaian Kongsi BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan saat ini bursa sedang melakukan peninjauan kembali poin-poin yang harus dilengkapi oleh perusahaan.

“Kita sedang review kelengkapan dokumen dan substansi informasinya, ” kata pendahuluan Yetna, Kamis (2/7/2020).


Beberapa waktu lalu bursa juga menyebutkan belum ada pertimbangan relaksasi yang akan diberikan kepada kongsi ini. Pasalnya, masa suspensi bagian AISA sudah mencapai batas periode untuk dihapuskan pencatatannya  (delisting) bersandarkan kebijakan bursa, yakni 24 kamar.

Sementara itu, di dalam keterbukaan informasi yang disampaikan AISA kepada BEI pada Selasa (30/6/2020) lalu bahwa perusahaan telah menutup ketentuan penyampaian laporan keuangan.

Laporan keuangan yang disampaikan terdiri dari interim Juni, September dan full year 2018 serta interim Maret, Juni dan September 2019.

Perusahaan masih belum menyampaikan laporan keuangan full year 2019 yang era penyampaiannya telah habis pada Mei 2020 lalu setelah diberikan relaksasi bursa akibat pandemi Covid-19 dan laporan keuangan Maret 2020.

Rencananya laporan keuangan ini akan disampaikan perusahaan pada simpulan kuartal III-2020 nanti.

Untuk kewajiban finansial, perusahaan menuturkan pada Selasa lalu telah memenuhi kewajibannya kepada bursa secara berantara dan akan dipenuhi akhir tarikh ini nanti.

“Telah dilunasi pada 30 Juni 2020. Dan untuk utang-utang yang bertekuk lutut pada Putusan Homologasi akan mengikuti jadwal pembayaran sesuai Putusan Homologasi yang sisanya akan dibayarkan di dalam 31 Desember 2020, ” tulis perusahaan.

Saat tersebut perusahaan terus melakukan upaya-upaya pembaruan kinerja dengan tetap melaksanakan kehidupan produksi dan penjualan terhadap semesta produk dan mengembangkan jalur distribusi baru dan memperkuat jalur bagian lama.

Selain itu perusahaan juga berencana untuk menggelar produk-produk baru yang inovatif secara margin yang kompetitif dan melayani efisiensi optimalisasi sumber daya.

Rencana gerak laku korporasi juga akan dilaksanakan buat meningkatkan modal kerja dan menutup utang perusahaan.

Di dalam Rabu (24/6), perseroan baru merilis laporan keuangan per September 2019, sebagai upaya kepatuhan demi menodong BEI  membuka kembali perdagangan bagian perusahaan yang disuspensi  sejak 30 Juli 2018.

Di dalam laporan keuangan, perseroan mencatatkan pendapatan Rp 1, 08 triliun, terbang 11, 23% dari periode dengan sama tahun sebelumnya Rp 970, 93 miliar.

Tatkala itu, perusahaan masih menderita habis bersih per September 2019 yaitu rugi bersih Rp 150, 33 miliar, naik 27% dari sebelumnya rugi bersih Rp 118, 51 miliar. Adapun beban pokok penerimaan naik menjadi Rp 759 miliar dari sebelumnya Rp 636, 92 miliar.

Pada era tersebut, saham Seri B AISA dipegang oleh BBH Luxembourg S/A Fidelity FD Sica V, FD FDS P 7, 98%, JP Morgan Chase Bank Non Treaty Clients 9, 33%, dan Trophy 2014 Investors Limited. 9, 09%.

Sisanya dipegang Morgan Stanley & Co. LLC-Client Account 6, 52%, Primanex Limited 5, 38% dan investor publik 57, 50%.

Perseroan buat tetap mengunggah laporan- laporan keuangan AISA kepada Bursa dan semesta stakeholder termasuk pemegang saham perseroan yaitu Laporan Keuangan Triwulan I 2018, Laporan Keuangan Tengah Tahunan 2018, Laporan Keuangan Triwulan III 2018, Laporan Keuangan Triwulan I 2019 dan Laporan Keuangan Triwulan III 2019.

“Besar jalan Perseroan bahwa dengan telah terpenuhinya kewajiban pelaporan terhadap laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Surat Pasar uang S-02407 ini, Bursa berkenan buat mempertimbangkan mengakhiri suspensi perdagangan terhadap saham perseroan, ” kata Dirut AISA Lim Aun Seng serta Direktur AISA Ernest Alto, pada suratnya.

“… serta [BEI] berkenan juga untuk mengeluarkan perseroan dari daftar perusahaan terbuka yang berada pada potensi delisting [dikeluarkan dari papan perdagangan], ” tulis keduanya.

Saksikan video terpaut di bawah ini:

(tas/tas)