Monday, July 13

Rupiah Terburuk di Asia, ‘Sempat Disayang Sekarang Dibuang’

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir dan menjelma yang terburuk di kawasan Kesultanan Kuning.

Secara week on week (wow), di pasar spot rupiah terdepresiasi 0, 71% di hadapan dolar greenback. Pada penutupan perniagaan kemarin US$ 1 dibanderol Rp 14. 150. Jawara mata kekayaan Asia pekan ini jatuh kepada rupee India yang menguat nyaris 1% terhadap dolar AS.


Berbagai sentimen buruk dengan datang dari dalam dan asing negeri membuat kinerja mata uang Garuda terpuruk. Beberapa negara di dunia dalam sepekan terakhir mengadukan adanya peningkatan jumlah kasus terakhir infeksi Covid-19.

Sampai dengan hari tersebut Sabtu (27/6/2020) data kompilasi real time John Hopkins University CSSE menunjukkan sudah ada 9, 78 juta orang di dunia yang terkena virus ganas yang awalnya merebak di Wuhan itu.

Di AS kasus baru beranjak 40 ribu dalam satu keadaan pada 25 Juni lalu & ini menjadi angka pertambahan kasus yang tertinggi yang pernah terekam sejak AS terjangkit wabah Covid-19.

Sementara itu dalam saat yang sama, India pula mencatatkan rekor pertambahan kasus hariannya dengan 17, 3 ribu kejadian dalam sehari.

Berpindah ke dalam negeri, jumlah kasus di Indonesia telah mencapai nilai 51. 427 hingga kemarin. Saat ini Indonesia menjadi pemimpin klasemen negeri dengan jumlah kasus infeksi Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara dan telah menyalip Singapura.

Di Indonesia jumlah kasus per hari yang dilaporkan mengalami fluktuasi cenderung meningkat dengan laju sama kasus per harinya sepekan belakang mencapai angka 1. 000 kasus/hari.

Tak dapat diketahui dengan pasti teks pandemi ini akan berakhir. Bagi negara-negara yang kurva epidemiologinya sudah melengkung kebawah kini harus waspada akan risiko gelombang kedua pagebluk seiring dengan relaksasi lockdown dan prakata ekonomi yang dilakukan.

Melihat berbagai realita yang ada, lembaga keuangan global Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan output global April lalu sebesar 1, 9 poin persentase (pp) menjadi minus 4, 9% di 2020.

Proyeksi kemajuan ekonomi RI pun dipangkas 1, 8 pp menjadi -0, 3% dari sebelumnya masih tumbuh minimalis di angka 1, 5%.

Tidak hanya IMF sekadar yang memproyeksi ekonomi RI mampu minus tahun ini, bank terbesar di ASEAN yakni DBS selalu ‘meramalkan’ hal yang sama. Dalam laporan terbarunya DBS memperkirakan ekonomi RI tahun 2020 bisa kurang 1%.

Sementara itu jika mengacu pada proyeksi Bank Dunia, ekonomi Tanah Air tak akan mencatatkan pertumbuhan tahun ini. Berbeda dengan Bank Dunia, BI memandang ekonomi RI bisa lahir di 0, 9% – satu, 9% tahun ini.

Berbeda lagi dengan proyeksi Menteri Keuangan yang memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 berpotensi mengalami pengurangan minus 0, 14% pada skenario terburuk dan tumbuh 1% bila melihat skenario terbaiknya.

Institusi Prediksi 2020
World Bank 0
IMF -0. 3
DBS -1
Bank Indonesia 0. 9-1. 9
Kementerian Keuangan -0. 14 – 1

Sumber: CNBC Nusantara

Jelas perut faktor ini menjadi sentimen dengan kurang mengenakkan untuk mata uang Indonesia. Sejak awal pekan ini, rupiah memang cenderung mengalami depresiasi.