Monday, September 21

Pada Balik Misi Bank Mega Melawan Corona

Jakarta, CNBC Indonesia – Peran sosial korporasi sempat dinilai bertentangan dengan “fungsi dasar” perusahaan sebagai entitas buat mencetak laba. Namun di pusat pandemi, PT Bank Mega Tbk justru “nekad” merogoh kocek lebih dalam untuk membiayai aktivitas sosial.

Nama Corporate Social Responsibility (CSR) tetap sudah sangat familiar di kuping kita, yakni tanggung-jawab korporasi dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan membagikan manfaat non-bisnis kepada stakeholder (konsumen, konsumen, maupun masyarakat).

Namun tahukah anda, bahwa ketika CSR pertama diperkenalkan sebab Howard R. Bowen dalam bukunya “Social Responsibilities of The Businessman” (1953), tak semua akademisi putus? Banyak juga yang menolak, salah satunya adalah Profesor Universitas Harvard, Theodore Levitt.

Dalam tulisannya berjudul “The Dangers of Social Responsibility” (1958), Levitt mengingatkan bahwa CSR bisa mengalihkan fokus perusahaan dari haluan pembentukannya-yakni memaksimalkan keuntungan-dan pada kesimpulannya bisa membahayakan eksistensinya.

Levitt tak seorang diri. Ekonom Milton Friedman dalam artikelnya di The New York Times (1960) menegaskan ” the social responsibility of business is to enhance its profit “. Oleh karena itu, aktivitas yang melayani kepentingan non-shareholder akan kontraproduktif dengan maksudnya.

Namun kini, CSR telah menjadi kalender rutin perusahaan, tak terkecuali dalam Indonesia. Di awal tahun 1980-an, dunia usaha telah familiar secara istilah bakti sosial, yakni kesibukan non-profit seperti sumbangan bencana negeri, beasiswa, pengobatan massal, dll.

Dengan munculnya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, CSR pula menjadi bagian tak terpisahkan lantaran perusahaan Indonesia karena bersifat mandatori. Di pasal 1 UU itu, istilah CSR disebut sebagai Kepalang Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Kini, di tengah pandemi COVID-19 yang berujung pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alias lockdown parsial, entitas usaha pun terpukul karena aktivitas bisnis terhambat. Kegiatan bisnis di Indonesia melesu sehingga pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mau di kisaran 2, 3% dan bukan 5, 3% seperti target di awal tahun. Dus, karakter usaha pun mengencangkan ikat pinggang.

Namun di tengah status sulit itu, bank berkode bagian MEGA malah mengucurkan dana basi untuk CSR. Bersama CT Corp, Astra dan Indofood, perseroan membantu pengadaan peralatan medis ICU serta HCU di dua Rumah Lara rujukan Covid-19 yaitu RSUPN  Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) – Jakarta dan Rumah Sakit Infeksi – Airlangga di Surabaya .

Mengapa inisiatif tersebut diambil? Bila bicara kewajiban CSR sebagaimana perintah UU Perseroan Terbatas, bukankah perseroan sudah rutin menggarap pos CSR dalam Laporan Keberlanjutan? Apa dengan kurang?

Mengacu pada Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) 2019, Bank Mega pokok pada strategi membangun keberlanjutan usaha dengan skala prioritas pada perluasan kapasitas dan penyaluran kredit serasi Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB).   Itu dengan internal.

Khusus untuk rencana eksternal, bank yang didirikan di dalam tahun 1969 ini memiliki perut program CSR yakni Mega Berbagi dan Mega Peduli. Sepanjang tahun 2019, mereka telah menumpahkan dana internal senilai total Rp 17, 7 miliar untuk kedua program tersebut.

Program Mega Berbagi diarahkan ke sektor pendidikan, karena bank yang dikendalikan mantan Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung ini meyakini bahwa “peningkatan taraf pendidikan hendak memutus mata rantai kemiskinan. ”

Sejak diluncurkan pada tahun 2008 tenggat akhir Desember 2019, Bank Mega telah menghimpun dana donasi Rp 111 miliar dari Tabungan Mega Berbagi, yang disalurkan kepada 69 sekolah untuk pembangunan dan renovasi serta 3 sekolah yang masa itu masih dalam tahap pendirian, dengan alokasi dana sebesar Rp102 miliar.

Dengan selesainya pembangunan sekolah di Timika pada awal tarikh ini, maka Mega Berbagi sudah membangun kembali dan merenovasi 72 sekolah diseluruh Indonesia.

Sementara tersebut, sejak tahun 1996 program Mega Peduli telah dijalankan dengan bermacam-macam kegiatan sosial lainnya seperti mas bantuan sembako, melakukan pemeriksaan serta pengobatan gigi gratis, belajar membaca, donor darah dan bantuan lainnya kepada masyarakat sekitar Kantor Bank Mega.