Monday, July 13

Usai Lebaran, Waspada Tekanan di Pasar Keuangan RI

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Pasar keuangan dalam negeri kompak pada pekan ini, dalam tiga hari perniagaan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri. Indeks Harga Saham Ikatan (IHSG) membukukan penguatan 0, 85%, rupiah lebih dari 1%, tatkala imbal hasil obligasi tenor 10 tahun 13, 3 basis poin (bps) menjadi 7, 676%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti makna sedang turun.

Di Kamis dan Jumat lalu rekan keuangan dalam negeri libur had Senin (25/5/2020) besok dalam rancangan Hari Raya Idul Fitri, serta baru bukan kembali pada Selasa (26/5/2020).



Era libur tersebut, pasar keuangan global bergerak volatil akibat memburuknya hati pelaku pasar menyusul meningkatnya tensi Amerika Serikat (AS) dengan China.

Memanasnya hubungan China dengan AS terjadi akibat Presiden Donald Trump mendesak agar China bertanggung jawab atas terjadinya pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian AS bahkan global merosot menuju lurah resesi.

“Kami punya banyak informasi, dan itu tidak bagus. Apakah (virus corona) datang dari laboratorium atau daripada kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu dari sumbernya, ” kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Beredar kabar pemerintahan Trump akan membuat Undang-undang (UU) yang mengharuskan China bertanggung tanggungan atas penyebaran virus corona. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, negeri sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act ).

Memburuknya hubungan kedua negara memproduksi pelaku pasar cemas akan prospek terjadinya babak baru perang dagang, bahkan yang terburuk konfrontasi bersenjata alias perang militer.

Selain itu, situasi di Hong Kong saat ini kembali memanas setelah Pemerintahan Presiden China, Xi Jinping, berencana memberlakukan UNDANG-UNDANG keamanan baru di wilayah administratifnya tersebut karena tahun lalu berlaku instabilitas akibat aksi demonstrasi selama berbulan-bulan tahun lalu.

Akibat rencana tersebut ribuan orang kembali berdemonstrasi di Hong Kong, setelah lama “adem ayem” akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Demo bahkan langsung memanas, polisi menambakkan gas air sembrono ke pendemo.

Jika tensi di Hong Kong tereskalasi, tentunya akan memperburuk sentimen pelaku pasar sehingga pasar keuangan Indonesia berisiko semakin tertekan. Apalagi, AS kembali ikut campur di masalah Hong Kong.

“AS mengutuk rencana sepihak UU keamanan nasional di Hong Kong. AS mendesak Beijing biar mengkaji ulang proposal yang mengerikan ini dengan memperhatikan tanggung berat dan menghormati otonomi serta lembaga demokrasi Hong Kong, ” logat Mike Pompeo, Menteri Luar Daerah AS, seperti diberitakan Reuters .

Ikatan AS-China bisa semakin memburuk akibat demo di Hong Kong, jadi pelaku pasar keuangan patut waspada.