Tuesday, July 14

Mochtar Riady, Jack Ma, dan Kekurangan Akut di NKRI

Jakarta, CNBC Indonesia kepala Pendiri Lippo Group  Mochtar Riady menghadiri acara Jakarta CMO Club dengan topik “Business Wisdom During COVID-19 Era” secara virtual, Kamis (14/5/2020). Dalam acara itu, Mochtar ditanya perihal kemiskinan di Indonesia, mulai dari penyebab hingga solusi yang dapat dilakukan para pengelola kepentingan.

Menurut dia, penduduk miskin tersebar di bermacam-macam lokasi. Namun, mereka dominan terlihat di daerah yang mengandalkan pertanian. Mengapa? Sebab, petani menjual hasil panennya dengan harga sangat murah, sementara dalam memenuhi kebutuhannya mereka harus membeli dengan harga langka.

“Petani tak bisa menjual langsung hasil panennya, namun melalui perantara. Sementara petani membeli barang kebutuhan sehari-hari dengan harga jauh lebih mahal dibanding pada orang kota. At least ada lima lapisan jual lebih murah beli lebih mahal, ” ujar Mochtar.



Faktor lain kemiskinan di tempat adalah pendidikan dan akses kesehatan. Ia menegaskan inilah saatnya mengentaskan kemiskinan melalui teknologi. Sehingga orang-orang di desa menjual dengan kehormatan lebih baik.

Bertambah lanjut, Mochtar bercerita pernah berdiskusi dengan pendiri Alibaba, Jack Ma terkait pengentasan kemiskinan di China. Menurut nya, pembangunan pasar internet berlaku besar terhadap pengentasan kemiskinan pada Negeri Tirai Bambu yang dikontribusikan oleh Jack Ma.

“Kalau Amazon bangun gardu di internet. Dengan membangun pasar sehingga pasar ini bisa tercapai di mana-mana. Oleh karena itu orang-orang desa bisa beli langsung lewat internet, ” kata Mochtar.

Pembelian secara tepat membuat harga yang didapatkan jauh lebih murah. Alhasil masyarakat kampung bisa menjual dengan lebih garib dan membeli dengan murah. Ia menjelaskan ada terobosan yang luar biasa terkait sistem keuangan dengan transaksi e-commerce untuk bisa bertambah maju.

“Ini adalah jasa yang luar pelik dari Jack Ma. E-commerce jangan hanya di kota tapi merembes desa, ” ujar Mochtar.

E-commerce akan menjadi sektor usaha yang memberikan dedikasi besar pada ekonomi digital Indonesia. Pada 2025, nilai transaksi e-commerce akan tembus US$97 miliar ataupun Rp 1. 358 triliun (asumsi Rp 14. 000/US$) dari sebelumnya US$23, 5 miliar (Rp 329 triliun) pada 2019.

Adapun laba bersih (net profit) diperkirakan akan tembus US$1, 5 miliar (Rp 21 triliun) mematok US$ 2, 2 miliar (Rp 30, 8 triliun). Hal tersebut merupakan hasil riset dari Goldman Sachs bertajuk Indonesia Internet: The Fight to Unite the Verticals yang dirilis 10 Maret 2020.

“Peningkatan transaksi itu mendapatkan manfaat dari penetrasi tambahan ke kots tier 2 & tier 3 dan di seluruh kategori produk, bahkan yang tingkat penetrasinya sudah moderat seperti pakaian dan barang elektronik konsumen, ” tulis Goldman Sachs.

(miq/miq)