Monday, August 10

Masuk Pola Triangle, Emas Siap Lelap Tinggi!

Jakarta, CNBC Indonesia –  Nilai emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (15/5/2020), setelah me penguatan tiga hari beruntun Kamis kemarin. Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China yang kembali memanas menjadi salah satu penopang pengukuhan emas.

Pada jam 17: 51 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1. 731, 53/troy ons, di pasar spot , melansir petunjuk Refinitiv. Dalam tiga hari belakang, total emas sudah menguat nyaris 2%.

Dengan teknikal, emas yang disimbolkan XAU/USD kemarin berhasil menembus ke tempat pola Triangle (garis biru), jadi membuat logam mulia ini mendapat momentum penguatan. Level tertinggi tarikh ini US$ 1. 746/troy ons menjadi resisten terdekat. Jika lapisan tersebut ditembus, emas akan amblas lebih tinggi menuju US$ 1. 800/troy ons.


Grafik: Emas (XAU/USD) Harian
Foto: Refinitiv

Sementara support (tahanan bawah) terdekat berada di kisaran US$ satu. 708 – 1. 700/troy ons, selama tidak menembus ke kolong level tersebut emas masih mengarah menguat. Sementara jika ditembus, logam mulia ini akan kembali mengambil fase konsolidasi dengan risiko kemerosotan ke US$ 1. 660/troy ons.

Secara pokok, emas menguat sejak kemarin sesudah Presiden AS, Donald Trump, masih terus menyerang China terkait pengerjaan pandemi penyakit virus corona (Covid-19), bahkan menuduh virus tersebut muncul dari laboratorium di Negeri Tiongkok.

“Kami memiliki banyak informasi, dan itu tidak bagus. Apakah (virus corona) pegari dari laboratorium atau dari kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu sebab sumbernya, ” kata Trump di dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

AS yang terus menyerang China mendatangkan kecemasan pelaku pasar akan terjadinya babak baru perang dagang. Masa dunia sedang “diserang” pandemi virus corona, babak baru perang kulak tentunya memperburuk kondisi perekonomian ijmal.

Pelaku rekan yang was-was menjadi enggan untuk mengambil risiko investasi yang gede sehingga lebih memilih bermain tenang di aset safe haven seperti aurum. Harga logam mulia ini biar kembali menguat.

Secara kondisi saat ini, kemerosotan ekonomi hingga resesi, serta kebijakan moneter ultra longgar bank sentral di berbagai belahan dunia plus provokasi fiskal pemerintah, harga emas membenahi potensi untuk menguat tajam. Makin ada yang memprediksi harga aurum bisa ke US$ 4. 000/troy ons.

Dengan begitu, emas disebut sebagai “raksasa dengan sedang tidur” oleh Andrew Hecht, dari Hecht Commodity.

Dalam tulisannya yang dikutip Kitco, Hecht melihat harga emas yang turun ke bawah US$ satu. 700/troy ons pada pekan lalu bisa jadi menandai periode penguatan ( bull rally ) yang baru. Ia melihat harga emas dalam jangka panjang emas akan menuju US$ 2. 000/troy ons, dan tidak menutup prospek ke US$ 3. 000/troy ons atau lebih tinggi lagi.

“Emas kemungkinan masih tidur saat ini, tapi penguatan intelek masih sangat mungkin terjadi kalau harga emas mengikuti pola yang terjadi di tahun 2008, ” tulis Hecht sebagaimana dilansir Kitco.

Kondisi saat itu memang mirip dengan tahun 2008, bahkan lebih parah lagi. Perekonomian global merosot tajam, dan bank sentral mengambil kebijakan moneter super longgar.

Bank pokok AS (Federal Reserve/The Fed) misalnya, suku bunga sudah dibabat habis menjadi 0-0, 25% (sama secara ketika krisis finansial 2008). The Fed juga menjalankan program pembelian aset ( quantitative easing /QE) bahkan kali tersebut nilainya tidak terbatas, sementara di dalam tahun 2008 dan setelahnya QE yang dilakukan nilainya dipatok setiap bulannya.

Krisis 2008 dan kebijakan bank sentral menjadi awal emas terus menguat maka menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1. 920, 3/troy ons pada 6 September 2011.

Kini tidak hanya The Fed yang menerapkan suku bunga sangat rendah dan QE, namun bank sentral negara-negara maju lainnya, sehingga peluang emas memecahkan rekor tertinggi terbuka lebar.

TIM RISET CNBC  INDONESIA (pap/pap)